Sebelum dikenal seperti sekarang, dia dan keluarganya tinggal di Lingkungan Polorejo RT 03/RW 07, Kelurahan/Kecamatan Purwosari. Ia tinggal bersama istrinya Niswatin, dan dua putranya. Yaitu, Aryo Bismoko dan Febridiyanto.
Menempati rumah di timur jalan nasional jurusan Surabaya–Malang, Mahfud panggilannya lantas membuka sebuah warung di samping rumahnya. Warung itu dibuka tidak lama setelah dia tinggal di sana.
https://radarbromo.jawapos.com/pasuruan/15/05/2022/warung-di-wonorejo-diduga-jadi-tempat-aliran-sesat-sudah-bermukim-sebulan/
“Saya tinggal dan menetap di rumah ini sudah lama, sejak tahun 1990-an sampai sekarang. Saya tinggal bersama istri dan dua orang putra kami, salah satunya ada di Surabaya,” ucap Mahfud saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo, Senin (16/5) pagi di warungnya.
Sebelum tinggal di Kelurahan/ Kecamatan Purwosari, Mahfud tinggal di Desa Pakijangan, Kecamatan Wonorejo. Ayahnya berasal dari Kabupaten Malang dan ibunya dari Kota Batu.
“Dari Pakijangan, Wonorejo saya pindah beli rumah dan menetap di Purwosari. Sekaligus buka warung,” jelasnya.
Selama tinggal di Purwosari, Mahfud tidak pernah menyebarkan ajaran yang diduga menyimpang seperti saat ini. Rumah dan warungnya itu dipakai untuk berktivitas biasa.
Adapun warung di Desa Cobanblimbing, Kecamatan Wonorejo adalah milik adiknya, yaitu Nurhayati. Di warung yang bernama ‘Warung Family’ itu Nurhayati tinggal bersama anaknya Rika. Namun, saat ini Nurhayati dan Rika tinggal bersama Mahfud di Purwosari.
Sedangkan satu orang laki-laki yang disebut orang lain, juga masih saudara asal Kejayan. Laki-laki itu selama ini hanya singgah untuk istirahat di warung Family. Itupun kadang-kadang saja, tidak setiap hari.
https://radarbromo.jawapos.com/pasuruan/16/05/2022/ini-pengakuan-salah-satu-pengikut-aliran-di-wonorejo/
“Tidak ada kegiatan menyimpang, saya tidak mengajarkan ajaran dan juga tidak ada pengikut. Ini hanya kesalahpahaman saja,” bebernya.
Ia juga mengaku memeluk agama Islam, salat lima waktu, juga bersyahadat. Bahkan, dirinya mempercayai Alquran.
“Aku ini hanya ingin membuktikan janji-janjiku di hadapan tuhanku tatkala melaksanakan salat,” ujarnya.
Mahfud sendiri selama tinggal di Purwosari jarang bergaul dengan tetangganya. Sebab, rumanya memang agak berjauhan dengan rumah warga sekitar.
“Selama ini rumahnya tertutup terus. Juga jarang berkumpul dengan warga lain. Disamping rumahnya buka usaha warung,” kata ketua RT 03/RW 07 di Lingkungan Polorejo, Robiyantoro.
Baru saat ada undangan hajatan dan kerja bakti, Mahfud dan keluarganya keluar rumah. Di saat-saat seperti itu biasanya mereka membaur dengan warga sekitar.
“Profil orangnya ramah, tapi memang jarang keluar rumah. Untuk ajaran yang diduga sesat saya tidak tahu menahu,” tuturnya.
Saat koran ini bertandang ke warung milik Mahfud, tampak petugas dari Koramil dan Polsek Purwosari mampir. Ngobrol dengan Mahfud sekaligus patroli. (zal/hn) Editor : Ronald Fernando