Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan, Hasbullah mengungkapkan, era digitalisasi perlu mendapatkan sarana yang memadai. Salah satunya, ketersediaan laptop di sekolah-sekolah.
Rencananya, tahun ini ada pengadaan ribuan laptop. Pembelian laptop itu juga merupakan program pemerintah pusat. "Pengadaan laptop ini merupakan program pemerintah pusat untuk mendukung digitalisasi di sekolah," kata Hasbullah.
Ia menambahkan, sebanyak 2.475 unit laptop akan dibeli tahun ini. Ribuan laptop tersebut akan disebar untuk 165 sekolah dasar yang ada di Kabupaten Pasuruan.
Hitungannya, setiap sekolah akan disokong 15 komputer jinjing. Pembelian laptop tersebut dilakukan secara e-katalog.
Untuk membeli ribuan laptop tersebut, Pemkab mendapatkan sokongan dana dari pemerintah pusat. Besarnya mencapai kisaran Rp 12 miliar.
"Sumber dananya berasal dari DAK (Dana Alokasi Khusus) 2022. Pembelian atau pengadaan laptop tersebut, akan dilakukan secara e-katalog," sambungnya.
Rencana pengadaan laptop itu pun menjadi perhatian banyak pihak. Termasuk legislatif. Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Pasuruan Shobih Asrori memandang, pengadaan laptop tersebut harus benar-benar dilakukan dengan ketentuan. Terutama berkaitan dengan spesifikasi laptop yang akan dibeli.
Jangan sampai pembelian laptop itu memicu persoalan. Sehingga niat baik untuk mendukung digitalisasi sekolah, malah menjadi masalah. "Kami harap, pengadaannya dilakukan dengan ketentuan. Khususnya spesifikasinya. Agar benar-benar mampu menunjang program," bebernya.
Apalagi, anggaran yang dikeluarkan cukuplah besar. Mencapai kisaran Rp 12 miliar. "Sementara, banyak gedung-gedung sekolah yang membutuhkan perhatian. Pengadaan laptop ini, sebuah perjuangan. Jadi harus dijalankan dengan baik," timpalnya.
Direktur LSM Pus@ka Lujeng Sudarto memandang, pengadaan laptop tersebut harus memperhatikan banyak hal. Salah satunya, Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Karena jika TKDN kurang dari 40 persen, maka ada potensi penyimpangan dalam pengadaannya dan rentan memicu kerugian negara.
Hal lainnya, harus ada pembanding dalam penunjukan e-katalog. Hal ini untuk memastikan kualitas yang terbaik dengan kesesuaian harga. "Jika dua hal tersebut tidak terpenuhi, patut dicurigai. Jangan-jangan ada permainan," simpulnya. (one/mie) Editor : Ronald Fernando