Catatan BPBD Kota Pasuruan menyebutkan, selama Januari hingga Februari 2022, terjadi 13 kali banjir. Satu kali merupakan banjir rob atau naiknya permukaan air laut di kawasan pesisir. Adapun 12 kali banjir lain merupakan akibat meluapnya Kali Welang, Gembong, dan Petung.
”Kali Petung yang paling sering meluap hingga mengakibatkan banjir di wilayah timur,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pasuruan Samsul Hadi.
Sepanjang Januari, sebut dia, terjadi sembilan kejadian banjir. Lima di antaranya akibat luapan Kali Petung. Sementara Februari, jumlah kejadian banjir lebih sedikit. Namun, yang terjadi pada Februari sama. Paling banyak banjir akibat luapan Kali Petung.
Menurut Samsul, kejadian banjir selama dua bulan terakhir juga membuat jumlah warga yang terdampak berkurang. Pada Januari, setidaknya ada 1.133 KK di wilayah kota yang rumahnya terdampak banjir. Angkanya turun menjadi 727 KK yang terdampak banjir pada Februari.
”Sejauh ini tidak ada korban,” kata Samsul.
Di samping itu, tambah Samsul, banjir yang selama ini melanda Kota Pasuruan relatif bisa lebih cepat surut. Sebab, tinggi air yang menggenangi perkampungan antara 50 hingga 100 sentimeter. Hanya, genangan air akibat luapan Sungai Welang terkadang bisa setinggi dada orang dewasa di Kelurahan Karangketug.
”Air butuh waktu lebih lama untuk surut karena padatnya permukiman dan minimnya saluran yang berfungsi menyerap air,” katanya. (tom/far) Editor : Jawanto Arifin