Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Minim Nelayan di Kota Ikuti Asuransi, Dari 2.020, Yang Ikut Cuma 180

Jawanto Arifin • Senin, 21 Februari 2022 | 22:40 WIB
PENUH RISIKO: Nelayan di kawasan Panggungrejo hendak menepi usai melaut beberapa waktu lalu. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)
PENUH RISIKO: Nelayan di kawasan Panggungrejo hendak menepi usai melaut beberapa waktu lalu. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)
PASURUAN, Radar Bromo - Nelayan merupakan salah satu profesi yang penuh risiko. Mereka bekerja di tengah hempasan ombak dan angin laut. Nyawa menjadi taruhannya. Karena itu program asuransi bagi nelayan dinilai cukup penting.

Meski begitu, tidak semua nelayan tampaknya menyadari hal itu. Buktinya, sangat sedikit nelayan di Kota Pasuruan yang mengikuti program tersebut. Kepala Dinas Perikanan Kota Pasuruan Imam Subekti menyebut, tidak sampai 10 persen nelayan yang ikut asuransi mandiri.

“Peserta mandiri asuransi nelayan, artinya yang memang punya inisiatif ikut asuransi tidak lebih 10 persen dari seluruh nelayan yang ada,” ujar Imam.

Hingga saat ini, dinasnya mencatat jumlah nelayan di kota santri ini sebanyak 2.020 orang. Tetapi, dengan persentase tersebut, hanya sekitar 180 nelayan yang terkover asuransi mandiri. Artinya, mereka sanggup membayar premi asuransi setiap bulannya sendiri.

“Jadi sangat minim sekali memang yang mengikuti program asuransi,” kata Imam.

Padahal, dengan mengikuti asuransi setidaknya bisa memberikan perlindungan bagi nelayan. Terutama jika mengalami kejadian yang diluar dugaan dan sama sekali tak diharapkan. Misalnya kecelakaan laut. Bila itu terjadi, asuransi yang mereka ikuti bisa diklaimkan. Paling tidak, bisa sedikit meringankan beban keluarga nelayan itu sendiri.

“Apalagi pekerjaan nelayan risikonya tinggi. Sedangkan kalau ikut asuransi kan bisa diklaimkan ketika terjadi laka laut. Kami beberapa kali memfasilitasi keluarga nelayan mengklaimkan asuransi itu,” kata Imam.



Dinasnya juga terus mendorong agar lebih banyak nelayan yang mengikuti asuransi tersebut. Kendati demikian, sejauh ini kesediaan nelayan mengikuti asuransi cukup rendah. Imam menduga hal itu dipengaruhi beberapa faktor. Pertama memang mereka enggan menjadi peserta asuransi. Atau mungkin keberatan dengan biaya premi yang mesti dibayarkan.

“Preminya sendiri Rp 15 ribu per bulan. Untuk mendorong kepesertaan, biasanya pemerintah pusat menyediakan kuota subsidi setiap tahun,” kata Imam.

Dalam kurun waktu sejak 2016 silam, total sudah ada 1.700 nelayan yang sempat mendapat bantuan premi asuransi. Namun tidak semuanya melanjutkan menjadi peserta asuransi. Sedangkan bantuan premi yang merupakan stimulus hanya diberikan setahun. Selebihnya harus dibayarkan nelayan itu sendiri.

“Jadi sudah cukup banyak yang kami usulkan, tetapi sampai sekarang hanya 180an yang ikut jadi peserta mandiri. Lainnya mandek,” ungkap Imam. (tom/fun) Editor : Jawanto Arifin
#asuransi nelayan #perikanan kota pasuruan #nelayan kota pasuruan