Kenaikan debit air pun terekam alat tersebut. Dan segera mengirimkan sinyal. Sirine meraung. Petugas pun segera datang untuk mengantisipasi luapan air sungai. Semakin cepat petugas datang, maka semakin cepat pula untuk menormalkan kembali debit air.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Pasuruan Gustap Purwoko mengaku, pihaknya terus menyiagakan personelnya selama musim hujan berlangsung. Dengan begitu, mereka bisa segera dikerahkan apabila ada masalah terkait pengairan akibat derasnya hujan.
Setiap hari mereka juga memantau kondisi saluran air dan sungai agar alirannya tak terhambat. “Termasuk ketika terjadi peningkatan debit air seperti tadi malam (Senin, Red),” kata Gustap.
Sedikitnya ada 14 personel dari Dinas PUPR yang turun untuk menormalkan debit air sungai. Sebab debit air di tiga sungai di wilayah kota sama-sama naik. Namun Gustap menyebut, dinasnya lebih berkonsentrasi untuk mengatasi naiknya debit air di Sungai Petung.
“Konsentrasi kami memang di Petung karena memang dianggap rawan,” katanya.
Muslim, salah seorang petugas yang menormalkan debit air di sekitar Jembatan Buk Wedi, kemarin mengakui jika naiknya debit air akibat banyaknya sampah yang terbawa arus sungai. Menurutnya hujan deras membuat debit air meningkat. Ditambah dengan sampah yang ikut terbawa ke arah muara.
“Kami lakukan penyisiran mulai dari perbatasan sampai ke muara, untuk mencari di mana hambatannya,” jelasnya.
Sebab, meningkatnya debit air sungai tersebut terjadi lantaran ada hambatan akibat tumpukan sampah. Beruntung, naiknya debit air tidak sampai meluber ke bibir sungai. “Karena memang cepat ditangani sehingga tidak sampai meluber,” katanya. (tom/fun) Editor : Jawanto Arifin