Lurah Randusari Wahyudi mengatakan kondisi tersebut sudah cukup lama terjadi. Bahkan bertahun-tahun lapangan di wilayahnya memang seringkali menyerupai kolam bila memasuki musim hujan. Rumput lapangan nyaris tak terlihat karena tergenang air.
“Hampir setiap tahun warga kerja bakti. Karena kalau musim hujan seperti sekarang praktis tidak bisa dipakai,” kata Wahyudi.
Saat ini, lanjut Wahyudi, warga juga menguruk permukaan lapangan agar tidak mudah tergenang. Kegiatan yang dilakukan secara swadaya tersebut sudah berlangsung beberapa hari terakhir. Pihak kelurahan sendiri sudah pernah mengajukan rehab lapangan ke pemkot.
“Tetapi memang belum disetujui,” kata Wahyudi. Tahun ini, Pemkot Pasuruan hanya merehab lapangan Krapyakrejo yang kondisinya lebih parah dan bertahun-tahun tak bisa digunakan. “Kami berencana untuk mengusulkannya lagi,” beber Wahyudi.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kota Pasuruan Basuki mengatakan, pihaknya tahun ini belum bisa memperbaiki dua lapangan tersebut. Dalam APBD 2021, Pemkot Pasuruan hanya menyediakan anggaran untuk menyentuh perbaikan lapangan Krapyakrejo dan Krampyangan.
“Tahun ini diprioritaskan untuk dua lapangan itu. Krapyakrejo memang belum ada fasilitas olahraga di sana. Lapangannya selama ini cukup lama tidak bisa difungsikan,” kata Basuki.
Kondisi lapangan Krapyakrejo, lanjut Basuki, juga tidak jauh berbeda dengan lapangan Sebani maupun Randusari. Yaitu permukaan lapangan yang rendah. Sehingga sering terjadi genangan ketika musim hujan. Sementara perbaikan lapangan Krampyangan, memang sudah dimulai pengurukannya sejak dua tahun lalu.
“Jadi tahun ini dilanjutkan dengan penanaman rumputnya,” bebernya.
Meski begitu, kata dia, tak menutup kemungkinan ke depannya juga akan dilakukan perbaikan untuk lapangan Sebani dan Randusari. Selama ini, Disparpora mengusulkan perbaikan fasilitas olahraga berdasarkan usulan dalam Musrenbang Kelurahan/Kecamatan. Akan tetapi, realisasinya juga tetap mempertimbangkan skala prioritas. (tom/fun) Editor : Jawanto Arifin