Pembina KGSP Wahyu Nugroho bercerita, tema yang diusung dalam ajang ‘Gandeng Renteng’ ke-11 kali ini juga tak jauh dari pandemi. Yaitu ‘Pecut Diseblakno’. Tema tersebut, kata Wahyu, menggambarkan perjuangan para seniman di tengah situasi yang serba terbatas saat ini. Mereka tetap semangat berkarya dan menampilkan karyanya melalui pameran seni rupa.
“Awalnya memang akan digelar Maret lalu. Namun Covid-19 masih tinggi akhirnya kami gelar November ini,” kata Wahyu, usai pembukaan pameran seni rupa di kampus Uniwara Pasuruan, Sabtu (13/11) malam.
Dalam kegiatan yang berlangsung hingga Rabu (17/11) mendatang, ada 49 karya yang dipamerkan. Temanya beragam. Para seniman mencoba memberikan respons terhadap isu-isu sosial, budaya dan politik lewat media kanvas.
Asisten Pemerintahan Setda Kota Pasuruan Sahari Putro yang hadir dalam pembukaan pameran seni rupa itu mengapresiasi para seniman Pasuruan. Terlebih karena mereka bisa tetap eksis dan menggelar pameran di tengah pandemi. Menurutnya, pameran semacam itu bisa menjadi tolok ukur seniman daerah lain di Jawa Timur.
“Gandeng Renteng merupakan even luar biasa yang jadi tolok ukur perkembangan seni rupa di Pasuruan,” ujarnya.
Sahari juga berharap para seniman Pasuruan agar terus melestarikan budaya seni rupa. Lebih dari itu, dia juga angkat topi karena rasa persaudaraan di kalangan seniman sangat tinggi. Mereka sangat terbuka bahkan merangkul para seniman muda untuk mulai berkarya.
“Pameran yang diselenggarakan kali ini bisa melestarikan budaya seni rupa yang ada di Kota Pasuruan. Harapannya seniman Pasuruan harus menerapkan prinsip asah, asuh dan asih antara perupa senior dengan perupa yang masih muda,” imbuhnya. (tom/fun) Editor : Jawanto Arifin