Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

“Kami Kehilangan Ulama Panutan Umat”

Jawanto Arifin • Senin, 14 Juni 2021 | 17:00 WIB
KHARISMATIK: Kiai Nawawi saat bertemu Habib Muhammad Luthfi, beberapa waktu lalu.
KHARISMATIK: Kiai Nawawi saat bertemu Habib Muhammad Luthfi, beberapa waktu lalu.
PASURUAN, Radar Bromo - Wafatnya KH A. Nawawi Abdul Djalil, pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan menjadi duka bersama. Sejumlah tokoh pun turut kehilangan.

Bagi Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf, almarhum bukan sekadar guru dan ulama. Dia juga kawan dan orang yang sering memberi masukan. Gus Irsyad panggilannya, mengaku sangat kehilangan.

“Kami merasa sangat kehilangan. Kami hanya bisa mendoakan,” beber Irsyad yang tadi malam langsung meluncur ke rumah duka.

Irsyad sendiri punya banyak kenangan bersama KH Nawawi. Terutama karena almarhum sangat perhatian padanya.

“Beliau sangat perhatian kepada saya. Tapi sebenarnya kepada siapapun beliau perhatian,” beber Irsyad.

Sebelum pandemi, Irsyad sering bertemu dengan KH Nawawi. Terlebih bila sang kiai datang ke Kota Pasuruan dan berkunjung ke pendapa Kabupaten Pasuruan.

Tiap ke pendapa, Irsyad kerap mendapat wejangan. Termasuk memberi masukan-masukan atas jalannya pemerintahan di Kabupaten Pasuuran.

“Beliau juga sering guyoni. Pernah suatu kali beliau guyon, gak wani rabi maneh? (dak berani nikah lagi?, Red). Beliau adalah sosok kiai besar yang jadi rujukan kiai muda,” beber Irsyad.

Sepeninggal KH Nawawi kata Irsyad, semua harus melanjutkan perjuangan almarhum. Sebagai sosok kiai besar dari Pondok Pesantren Sidogiri yang mengayomi umat.

Wali Kota Pasuruan Saifullah Yusuf juga merasa sangat kehilangan. Bagi Gus Ipul sapannya, KH Nawawi adalah guru dan panutan. Dia pribadi seringkali meminta nasihat-nasihat dari KH Nawawi di setiap perjalanan karirnya di politik.

“Kami kehilangan seorang guru. Beliau panutan ulama sepuh yang banyak berharap nasihat dan bimbingannya,” katanya.

Gus Ipul sendiri tidak pernah putus bersilaturahmi dengan KH Nawawi. Terakhir, dua pekan lalu dia sempat sowan saat Idul fitri dan menerima beberapa nasihat dari almarhum.

“Saya bersyukur dibimbing langsung oleh beliau selama lebih dari 10 tahun. Kami kehilangan ulama sepuh kharismatik panutan umat,” ujarnya.

Menurut Gus Ipul, saat ini keluarga besar Sidogiri sedang bermusyawarah untuk prosesi pemakaman. Dia meminta masyarakat sabar menunggu penjelasan lebih lanjut dari keluarga.

Sekretaris PWNU Jawa Timur Prof. Akhmad Muzakki juga menyampaikan duka atas wafatnya Kiai Nawawi. Menurutnya, Kiai Nawawi bukan hanya seorang ulama yang alim dan banyak ilmunya. Namun, juga zuhud luar biasa. Karena itu, keluarga besar PWNU Jatim sangat berduka dan kehilangan.

"Mbah Kiai adalah simbol ilmu yang tinggi bertemu dengan kezuhudan yang tinggi. Hasilnya seperti yang bisa kita lihat sama-sama," ujarnya.

Kiai Nawawi menurutnya juga ulama besar yang selalu melihat orang lian dengan positif. Sikapnya juga sangat law profile.

“Meski beliau itu Kiai Sepuh yang dihormati banyak orang, namun beliau sangat menghormati kiai yang lain. Dan itu sangat jelas terlihat dari sikapnya,” tuturnya.

Bahkan, pada kiai yang usianya jauh di bawahnya, Kiai Nawawi pun selalu bersikap hormat. Selalu bersikap santun.

"Itu adalah ajaran yang sangat luar biasa dari beliau. Beliau memberikan pelajaran penting bagaimana caranya menghormati sesama walaupun beliau adalah ulama besar," ujarnya. (tom/mu/hn) Editor : Jawanto Arifin
#rsud bangil #sosok kiai nawawi #ulama kharismatik #ponpes sidogiri #kiai nawawi wafat #kiai nawawi sidogiri