Kepala Dinas Kesehatan Kota Pasuruan dr Shierly Marlena mengatakan, penanganan gizi buruk memerlukan waktu. Harus dilakukan secara berkelanjutan.
Sejumlah kasus gizi buruk yang ditangani saat ini juga berlangsung dari tahun sebelumnya. Ada yang sudah sembuh. Ada juga yang masih dalam penanganan.
“Semua kasus gizi buruk di Kota Pasuruan tertangani. Umumnya memang diberi suplemen dan paket makanan tambahan,” katanya.
Tetapi, cara itu tidak cukup bagi balita yang memiliki penyakit penyerta. Penyakit penyerta yang diderita balita akan banyak mempengaruhi proses penyembuhannya dalam masalah gizi. Karena itu, ada perlakuan khusus bagi balita yang memiliki penyakit penyerta.
“Jadi sekaligus dilakukan penanganan terhadap penyakit penyertanya,” ujarnya.
Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan, kasus gizi buruk saat ini tersebar di empat kecamatan. Yang paling banyak di Kecamatan Purworejo sebanyak 9 kasus. Sedangkan di Kecamatan Panggungrejo ada 8 kasus. Lalu 6 kasus di Kecamatan Gadingrejo dan 2 kasus di Kecamatan Bugul Kidul.
“Ada enam yang sembuh, 11 kondisinya membaik, dan sampai hari ini ada 19 yang masih dalam perawatan,” ucapnya.
Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, penanganan kasus gizi buruk saat ini juga diklaim meningkat. Dalam setahun terakhir, kasus yang membaik dan sembuh lebih tinggi daripada yang masih dalam perawatan. Sedangkan pada 2019, ada satu balita yang mengalami gizi buruk meninggal.
“Itu karena ada penyakit penyerta. Makanya kalau kasus gizi buruk dengan penyakit penyerta ada penanganan tersendiri, selain suplemen dan makanan tambahan,” tandasnya. (tom/hn) Editor : Jawanto Arifin