Psikolog di Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Pasuruan Aida Nur Fitria mengungkapkan, anak usia dini belum belajar dengan baik dalam mengambil keputusan. Padahal, dalam pernikahan, masalah yang dihadapi rumit dan kompleks.
"Apalagi kalau mereka menerima perlakuan yang tidak baik dari suami atau keluarga barunya. Jika mereka tidak bisa menghadapi dengan baik, maka rawan stres," ungkapnya.
Ia menyebut, banyak faktor yang menjadi pendorong terjadinya pernikahan usia dini. Seperti faktor ekonomi, karena pergaulan bebas, hingga tuntutan orang tua.
Untuk itu, perlu adanya edukasi pada remaja dan para orang tua tentang dampak pernikahan dini ini. Sebab, generasi muda adalah individu yang perlu untuk dikembangkan bakat dan inteligensinya.
"Di usia mereka itu menikah belum termasuk tugas, sehingga bisa jadi masalah. Mereka punya hak untuk mewujudkan mimpi dan keinginannya untuk sukses sesuai versi mereka," jelasnya.
Fasilitator Pendamping Hukum di P2TP2A Kota Pasuruan Fandi Winurdani menambahkan, ada dampak yang dialami remaja yang menikah di usia dini. Seperti kecemasan yang berlebihan, stres berat, depresi, bahkan hingga perceraian. Sebab, pernikahan dini adalah pernikahan yang tidak sempurna.
Mereka berada dalam usia belum matang. Organ intim dan reproduksi sedang berkembang, serta mental yang masih belum siap. Dan secara logika, perkawinan usia dini bisa menyebabkan trauma dan krisis percaya diri. Kemudian emosi tidak terkontrol atau labil.
"Kepribadiannya cenderung tertutup, mudah marah, putus asa, dan mengasihani diri sendiri. Hal ini terjadi karena usia anak belum siap untuk menjadi istri maupun suami, pasangan seksual, dan menjadi ibu atau orang tua," sebutnya.
Pernikahan usia anak juga menyebabkan gangguan kognitif. Seperti tidak berani mengambil keputusan, kesulitan memecahkan masalah, dan terganggu memori.
Dalam usia yang labil, egoisme salah satu pasangan menyebabkan terjadinya ketidakadilan, kekerasan rumah tangga, serta terjadi perceraian. Selain itu, mereka yang hamil dan melahirkan rawan mengalami gangguan mental pasca melahirkan.
"Seperti depresi setelah melahirkan (baby blues syndrome) yang terjadi karena perubahan hormon, kelelahan, tekanan mental, dan kurangnya bantuan ketika melahirkan," tutupnya. (riz/sid/one/hn/fun) Editor : Jawanto Arifin