Suatu malam pada Februari lalu, dia menjemput tunangannya yang bekerja di Kebonagung, Kota Pasuruan. Waktu itu sekitar pukul 21.00. Dia lalu mengantar pulang sang tunangan ke daerah Terate, Ranggeh. ”Sehabis dari rumah tunangan ya langsung pulang,” katanya.
Perjalanan pulang dari Ranggeh ke Pasrepan lebih dari 10 kilometer. Jalan sepi dan lancar. Wahyu mengendarai motor matik Yamaha NMax. Dua kilometer menjelang sampai rumahnya, dia merasa ada seseorang yang mengikuti. Satu sepeda motor dari belakang. Ada dua orang berboncengan. Tanpa diduga, mereka memepet Wahyu dan mengacungkan senjata tajam. Celurit terhunus.
”Saya diancam. Ya saya berikan motor itu,” katanya. Wahyu mengaku dirinya masih punya sepeda motor lain untuk dipakai sehari-hari. ”Harapan saya tentu begal yang merampas motor itu ditangkap polisi,” tuturnya.
Cerita lain pengalaman Ayu. Guru MTs di Kecamatan Pasrepan. Perempuan asal Sidogiri, Kraton, itu menjadi korban begal saat melintasi jalan Desa Gayam, Kecamatan Gondang Wetan, Februari juga.
Kejadiannya siang. Sekitar pukul 11.00. Waktu itu memang mau Jumatan. Jadi, jalan agak sepi. ”Saya pelan-pelan. Tiba-tiba dipepet dua orang. Mereka bawa celurit,” katanya. Karena takut Ayu memberikan sepeda motornya. ”Tapi, sempat mengambil HP dan langsung lari,” katanya.
Kejadian itu membuatnya trauma. Motor yang baru dicicil 16 kali lenyap tak berbekas. Amblas. Setelah itu, Ayu trauma naik motor. Baru sebulan kemudian berani lagi naik motor sendiri. ”Untuk motor diambilkan lagi oleh yayasan,” jelasnya. Dia juga berharap polisi segera bisa menangkap begal bercelurit itu. (sid/far) Editor : Jawanto Arifin