Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Butuh Rp100 M untuk Payung Madinah-Tabebuya di Wisata Religi

Jawanto Arifin • Sabtu, 17 April 2021 | 15:13 WIB
SUDAH DIKONSEP: Rancangan pengembangan wisata religi di Kota Pasuruan yang sudah menjadi bagian rencana. Inset, Kepala Bappenas RI Suharso Monoarfa bersama Wali Kota Pasuruan Saifullah Yusuf saat meninjau Alun-alun Pasuruan. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos
SUDAH DIKONSEP: Rancangan pengembangan wisata religi di Kota Pasuruan yang sudah menjadi bagian rencana. Inset, Kepala Bappenas RI Suharso Monoarfa bersama Wali Kota Pasuruan Saifullah Yusuf saat meninjau Alun-alun Pasuruan. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos
PANGGUNGREJO, Radar Bromo - Rencana membangun wisata religi terintegrasi terus diseriusi Pemkot Pasuruan. Di sekitar Masjid Jamik Al Anwar bakal dibangun Payung Madinah. Untuk merealisasikannya, butuh dana tak sedikit. Sekitar Rp100 miliar.

Jumat (16/4), Kepala Bappenas RI Suharso Monoarfa pun membawa rombongannya dari Jakarta ke Kota Pasuruan. Untuk mendengarkan paparan Wali Kota Pasuran Saifulah Yusuf tentang konsep pengembangan wisata religi di sana.

Suharso dan para petinggi Bappenas RI mengawali kunjungannya dengan salat di Masjid Jamik Al Anwar. Selepas itu dia berziarah ke makam KH Abdul Hamid bin Abdullah.

Ada putra KH Abdul Hamid, KH Idris Hamid yang mendampingi. Selain itu, pejabat pemerintah kabupaten dan kota juga berkumpul. Mulai dari Wali Kota Saifullah Yusuf, Wakil Wali Kota Adi Wibowo, Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf, dan Wabup Mujib Imron.

Gus Ipul –panggilan Wali Kota Saifullah Yusuf– menjelaskan, kawasan wisata religi akan diintegrasikan dengan kawasan perdagangan. Juga mal pelayanan publik dan wisata keluarga yang berpusat di alun-alun.

Untuk mal pelayanan publik dan sentra UMKM, pemkot bakal memulainya tahun ini. Gedung bekas Mal Poncol yang selama ini mangkrak akan dimanfaatkan.

Pemkot bahkan menyiapkan dana sekitar Rp1,8 miliar untuk membenahi bangunan yang berada di sisi selatan Masjid Jamik Al Anwar itu. Meski berdasarkan hasil audit konstruksi, bangunan itu masih layak. Namun tetap perlu perbaikan karena beberapa partisi gedung rusak lantaran lama tak terurus.

Gus Ipul meyakinkan bahwa wisata religi menjadi daya tarik utama bagi masyarakat untuk mengunjungi kota santri ini. Pihaknya memang belum menghimpun data resmi berapa banyak pengunjung wisata religi dalam periode tertentu.

Photo
Photo
ALA ARAB: Potret dari atas Alun-alun Pasuruan yang akan dikembangkan. Inset, Gus Ipul dan Suharso Monoarfa saat meninjau alun-alun. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

“Tapi dari terminal wisata saja kita bisa tahu bahwa dalam sehari bisa sampai 30 bus rombongan peziarah,” ujarnya.

Belum lagi di momen tertentu seperti malam Jumat. Jumlah peziarah bisa dua kali lipat lebih. Yakni, sampai 75 hingga 100 bus rombongan peziarah. Jumlah itu belum termasuk peziarah yang datang menggunakan kendaraan pribadi.

“Artinya, kita ambil rata-rata saja. Misalnya ada 50 bus per hari itu sudah mencapai 2.500 orang datang ke kota. Setahun kan sudah lebih dari satu juta,” katanya.

Tetapi, selama ini fasilitas yang diberikan kepada peziarah kurang memadai. Sehingga, meski sering didatangi orang dari luar daerah, namun pengaruh terhadap perekonomian masyarakat tak begitu besar.

“Makanya kami ingin wisata religi ini bisa terintegrasi dengan alun-alun dan kawasan perdagangan agar ekonomi masyarakat ikut naik,” tandasnya.

Sebagai gambaran, kawasan alun-alun nantinya bakal dilengkapi dengan ornamen-ornamen kolosal. Gus Ipul menyebut, ada bangunan payung raksasa serupa di Masjid Nabawi di Madinah.

Sedikitnya perlu sembilan payung Madinah di depan masjid Jamik Al Anwar. Masing-masing diperkirakan butuh dana sekitar Rp 5 miliar. Bila ditotal, payung Madinah itu akan menelan anggaran senilai Rp 45 miliar.

“Di sekitar alun-alun juga ditanami pohon Tabebuya untuk memperindah kawasan. Lampu-lampunya juga dibuat lebih bagus lagi,” ungkap mantan wakil gubernur Jawa Timur ini.

Dari perhitungan sementara, dana yang perlu disiapkan pemerintah untuk mengembangkan wisata religi terintegrasi ini bakal tinggi. Bisa menyentuh angka Rp100 miliar.

Kepala Bapenas RI Suharso Monoarfa pun sependapat dengan usulan pengembangan wisata religi terintegerasi. Sebelumnya, kata Suharso, Gus Ipul sudah memaparkan konsep itu di Jakarta beberapa waktu lalu. Menurutnya, potensi wisata religi memang perlu digarap serius demi mendongkrak perekonomian masyarakat.

“Melihat sejarah panjang Kota Pasuruan. Mulai dari keberadaan masjid dan tradisi ziarah, memang sudah selayaknya diberikan pelayanan bagi peziarah dengan penuh kenyamanan dan keindahan,” kata Suharso.

Dia menambahkan, pengembangan wisata religi itu sekaligus untuk mendemonstrasikan bahwa Islam itu bersih, indah, teratur. Apalagi tidak semua daerah memiliki potensi yang besar semacam itu. Jika wisata religi benar-benar dikembangkan maksimal, maka bisa menjadi pendorong ekonomi masyarakat.

Untuk memulainya, Suharso memastikan akan segera menyusun masterplan dalam waktu dekat. “Jadi istilahnya ini bukan bantuan ya, tapi kita akan bangun bareng-bareng,” beber politisi PPP itu. (tom/hn) Editor : Jawanto Arifin
#kh abdul hamid #wisata religi kota pasuruan #masjid jamik al anwar #pasuruan kota madinah