Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Selam Kab Pasuruan Kehilangan 30% Kekuatan usai Ditinggal 2 Atlet

Jawanto Arifin • Selasa, 30 Maret 2021 | 15:15 WIB
ANDALAN: Nukke Yusniar, 17, (kiri) dan Angguieta Maura Zafatta, 15, dua atlet selam andalan Kabupaten Pasuruan yang meninggal karena kecelakaan. (Foto: Istimewa)
ANDALAN: Nukke Yusniar, 17, (kiri) dan Angguieta Maura Zafatta, 15, dua atlet selam andalan Kabupaten Pasuruan yang meninggal karena kecelakaan. (Foto: Istimewa)
PASURUAN, Radar Bromo - Kepergian Angguieta Maura Zafatta, 15 dan Nukke Yusniar, 17, tak hanya meninggalkan duka bagi keluarga keduanya. POSSI Kabupaten Pasuruan juga sangat kehilangan. Sebab, dua gadis belia itu merupakan atlet selam andalan Kabupaten Pasuruan.

Bukan pekerjaan mudah bagi pengurus cabang olahraga untuk membidik atlet yang berpotensi. Tak terkecuali atlet selam. Pembinaan mesti dilalui cukup panjang. Tentunya, proses itu juga perlu waktu yang tidak sebentar.

Di usianya yang masih belia, Angguieta Maura Zafatta atau Anggi dan Nukke Yusniar dipanggil Nukke, sudah menunjukkan bakatnya dalam olahraga selam. Keduanya merupakan bagian dari 18 atlet yang terpilih mengikuti Puslatcab. Saban hari, mereka berlatih di kolam renang Katak Riang.

Intensitas latihan yang menguras energi itu, mereka lalui dengan penuh semangat. Sampai-sampai mereka rela menempuh perjalanan sekitar satu jam dari rumahnya di Kecamatan Sukorejo menuju tempat latihan di Kecamatan Pohjentrek.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Anggi dan Nuke meninggal Sabtu (27/3) malam saat dalam perjalanan ke tempat latihan. Mereka kecelakaan di Wonorejo.

“Kami sangat kehilangan. Mereka begitu semangat latihan,” kata Pembina POSSI Kabupaten Pasuruan Andy Lukito, kemarin (29/3).

M Riyad, pengurus sekaligus pelatih POSSI Kabupaten Pasuruan menambahkan, dua atlet itu tengah disiapkan menghadapi Porprov Jatim 2022. Dari segi usia, keduanya berpotensi menapaki puncak karirnya dalam event olahraga selam. Terlebih di nomor pertandingan estafet.

https://radarbromo.jawapos.com/pasuruan/29/03/2021/2-atlet-selam-meninggal-saat-berangkat-latihan-proyeksi-porprov/

Mereka memiliki bekal mumpuni yang didapat dari kegiatannya berlatih selama ini. Terutama di nomor estafet 100 meter, 200 meter, sampai 400 meter. Nomor-nomor itu merupakan spesialisasi keduanya.

“Tentu berat untuk mencari pengganti. Apalagi Porprov kan sudah dekat. Persiapannya perlu waktu dan proses panjang,” beber Riyad.

Maka, sepeninggal Anggi dan Nukke, tim Puslatcab pun berkurang. Kini tinggal 16 atlet. Padahal, mereka punya target medali dalam ajang Porprov mendatang. Sebab, dalam empat kali ajang Porprov sebelumnya, atlet POSSI Kabupaten Pasuruan meraih predikat juara umum.

“Kini kami kehilangan 30 persen kekuatan,” kata Andy yang juga Sekretaris POSSI Jawa Timur itu.

Andy pun menyebut, mencari pengganti keduanya akan sulit. Apalagi yang benar-benar siap untuk mengikuti ajang sekelas Porprov. Tidak bisa hanya dilakukan dalam satu dua tahun. Anggi saja, sudah berlatih sejak usianya masih 7 tahun.

“Kalau menyiapkan pengganti, kira-kira ya masih perlu empat sampai enam tahun lagi,” ujarnya.

Menjaring atlet sejak usia dini, kata Andy, sulitnya bukan main. Persoalannya bukan sekadar melihat potensi calon atlet yang dibidik. Tapi lebih pelik lagi. Mereka yang jadi pengurus cabang olahraga, acapkali dihadapkan pada stereotip tentang kehidupan atlet.

“Yang berkembang di masyarakat atau orang tua terkadang soal masa depan ya,” kata Andy.

Menjadi atlet, terkadang dipandang sebelah mata. Tak menguntungkan. Tak bisa menjamin masa depan cerah. Padahal, kalau mau berpikir lebih terbuka, kata Andy, atlet juga bisa mendatangkan banyak peluang. Prestasi yang diraih, tentu akan sebanding dengan apa yang didapat.

Misalnya saja mereka yang kini tergabung dalam Puslatcab, setiap bulan mendapat honor. Belum lagi kalau menang Porprov, lantas terseleksi dalam Puslatda Jatim.

Seperti Nadia Kusuma Wardani, Farid Ainun Najib, dan Wahyu Anggoro yang tengah digembleng untuk mewakili Jawa Timur dalam PON Papua.

“Kalau sudah masuk Puslatda, honor mereka melebihi UMR lho. Artinya apa? Masyarakat juga kami harap bisa memahami bahwa menjadi atlet itu sekaligus meniti karir dan mencari penghidupan,” terangnya.

Di samping itu, berkecimpung di dunia olahraga juga sekaligus tameng diri. Mereka yang menjadi atlet bakal berkonsentrasi untuk terus mengasah skill. Sehingga, sangat kecil kemungkinan terjerumus ke lingkungan negatif.

“Jadi ini juga menangkal kenakalan remaja, penggunaan narkoba dan hal lain yang negatif. Karena pagi mereka sekolah, siang latihan fisik, sorenya latihan di kolam,” beber Andy.

Hanya saja, Andy mengatakan bahwa fasilitas bagi atlet selam saat ini belum tersedia. Meski pemerintah sudah menggelontorkan hibah melalui KONI. Tapi hibah itu digunakan untuk pembinaan atlet. Sedangkan fasilitas yang memadai tetap diperlukan.

“Yang sesuai standar untuk latihan di kabupaten ini hanya dua. Selain di Katak Riang juga di Saygon. Kami sudah mengajukan agar disediakan fasilitas berupa kolam sesuai standar dari pemerintah,” katanya. (tom/hn/fun) Editor : Jawanto Arifin
#atlet selam tewas kecelakaan #kecelakaan pasuruan #kecelakaan wonorejo #possi kabupaten pasuruan #kecelakaan maut #possi jatim