Banyubiru tidak buka sejak April 2020. Hampir genap satu tahun. Wisata tersebut tidak menyumbang pendapatan asli daerah (PAD) sama sekali. Namun, kondisi itu dinilai bukan masalah bagi Pemkab Pasuruan. Yang terpenting, tidak terjadi kerumunan yang rawan persebaran Covid-19.
Di samping itu, Pemkab Pasuruan memang tengah menggodok konsep wisata halal di sana. Jadi, tata ulang wahana dan sarana prasarana bisa berjalan dengan baik. Informasinya, akan ada pemisah antara pemandian pria dan wanita. Juga ada penambahan fasilitas baru. Berupa lahan outbond. Lapangan tenis di lokasi bakal direnovasi. Selain itu, ada rencana penutupan kolam renang di bagian utara dan digunakan untuk tempat parkir.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Pasuruan Eka Wara Brehaspati mengaku belum bisa menjelaskan seperti apa pastinya konsep tata ulang Banyubiru tersebut. Saat ini, konsultan yang ditunjuk masih menyiapkan desainnya. ”Setelah selesai baru akan ditunjukkan dan didiskusikan di internal pemkab," katanya.
Menurut Eka, Disparbud tengah menunggu hasil kerja konsultan penataan Banyubiru. Yang pasti, konsepnya tetap memegang teguh kearifan lokal, nilai-nilai daerah santri, dan sebagainya. "Penyekatan tempat mandi perempuan dan laki-laki itu nanti ada. Tapi, bukan berarti melarang,” tandasnya.
Bagaimana soal anggaran? Untuk tahun ini, belum ada rencana mengajukan bantuan dana ke pusat. Tetapi, bisa jadi, langkah itu akan dilakukan. Bantuan mungkin didapat. "Kebutuhan anggaran menunggu konsultan juga. Penghitungan (biaya) untuk fisik dan sebagainya,” tambah Eka. Jadi, menunggu konsep yang diusung.
Konsep penataan Banyubiru direncanakan mengusung tiga tema besar. Yaitu, maslahat, sejahtera, dan berdaya saing. Yang pasti, wisata Banyubiru dengan konsep baru ditata menjadi lebih baik. Tidak melanggar syariat agama dan menghormati tradisi lokal. "Dibukanya bisa tahun ini. Bisa tahun depan," ujarnya. (sid/far) Editor : Jawanto Arifin