Salah satu pengemudi angkot, Subkhan mengatakan, sejak pandemi angkot kian sepi. Sebab, pelajar yang selama ini menjadi pengguna jasa transportasi ini tidak menggunakannya sejak pemberlakuan sekolah dalam jaringan (daring). Akibatnya, banyak angkot yang memilih untuk tidak menarik penumpang.
“Kurang lebih ada sekitar 100 angkot di Kota Pasuruan. Cuma sekarang banyak yang tidak difungsikan. Memang ada beberapa yang masih tetap narik, tapi jumlahnya tidak seberapa,” ujarnya.
Ia menjelaskan, angkot di Kota Pasuruan memang mulai ditinggal masyarakat. Banyak masyarakat yang memilih menggunakan transportasi pribadi. Namun, kondisi ini semakin parah sejak pandemi.
Angkot kini tidak lagi bisa mengandalkan pelajar, karena sekolah diliburkan. Kondisi ini sangat memukul angkot, karena pelajar selama ini jadi sumber penghasilan utama. Sehingga, banyak pemilik angkot mengubah pemfungsiannya.
Mereka kerap tidak mengandalkan trayek semata, karena sepi. Banyak pemilik angkot menyewakannya untuk digunakan sebagai kendaraan umum bagi masyarakat yang hendak hajatan, seperti menghadiri pernikahan atau sunatan.
“Sejak sekolah diliburkan, angkot kian terpukul. Makanya dijadikan transportasi sewa. Jika ada masyarakat mau pergi ke mana, angkot bisa digunakan sebagai transportasi khusus,” ujar Subhan.
Anggota Komisi III DPRD Kota Pasuruan Ismu Hardiyanto mengatakan, pihaknya menyambut positif jika pemilik angkot yang mengubah peruntukan sebagai jasa sewa. Menurutnya, ini sebuah solusi agar tidak mati saat pandemi.
Namun, agar aman angkot harus memasang tulisan di bodinya saat keluar melewati trayek untuk menunjukkan jika mereka sedang disewa. “Ke depan kami berencana mengusulkan pada Dinas Perhubungan (Dishub) untuk mengkaji ulang trayek yang ada. Agar angkot tidak semakin mati,” ujarnya. (riz/rud/fun) Editor : Jawanto Arifin