Ribuan santri dan umat Islam mengantarkan kepergian almarhum ke peristirahatan terakhir di Jalan Jawa. Usai disalatkan di Masjid Jami' Al Anwar Kota Pasuruan, jenazah almarhum dimakamkan di belakang Masjid Jami' bada asar. Isak tangis dan suasana haru mengiringi pemakaman almarhum.
Salah satu putra almarhum, Habib Abdullah bin Hasan bin Muhammad bin Hud Assegaf mengatakan, Senin (21/12) lalu, almarhum mengeluhkan sakit lambung dan usus. Akhirnya, ia dibawa ke Rumah Sakit National Hospital, Surabaya, dan tiba di sana sekitar pukul 17.00. Dari hasil pemeriksaan, ada pembengkakan pada ususnya. Dokter menganjurkannya untuk opname.
Sabtu (26/12) malam, Habib Hasan memaksa minta pulang. Ia berulang kali melepas tabung oksigen di mulutnya. Sehingga, kondisinya semakin drop dan dipindah ke ICU untuk mendapatkan penanganan. Minggu (27/12), sekitar pukul 02.00, Habib Hasan mengembuskan napas terakhir. Ia meninggal dalam usia 64 tahun.
“Beliau sebelum diopname masih mengimami salat Duhur. Namun, tiba-tiba kondisi beliau drop dan dibawa ke rumah sakit untuk dicek. Ternyata ada pembengkakan pada bagian usus,” ujarnya.
Ketua PC NU Kota Pasuruan Muhammad Nailur Rohman mengatakan, umat Islam, khususnya NU sangat kehilangan dengan kepergian Habib Hasan. Habib Hasan dikenal ulama karismatik, tawadu, ramah, dan istiqamah. Dalam kondisi apapun, bila diundang warga, selalu berusaha hadir.
“Kami kehilangan salah seorang kekasih Allah SWT. Beliau memenuhi undangan siapapun tanpa melihat status sosial seseorang. Beliau seorang panutan yang memberikan teladan melalui perilaku sehari-hari. Sosok ulama seperti beliau sulit dicari di zaman seperti ini,” ujarnya. (riz/rud/fun) Editor : Jawanto Arifin