Calon Wali Kota nomor urut 1, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mendapat sambutan yang hangat dari masyarakat Mancilan, Kelurahan/ Kecamatan Purworejo malam itu.
Dalam kesempatan itu pula, Gus Ipul dinobatkan sebagai warga kehormatan Mancilan. Hal itu ditandai dengan penyerahan pedang oleh Wakil Ketua Perguruan Kuntu Mancilan sekaligus Ketua IPSI Kota Pasuruan Muhammad Haris kepada Gus Ipul.
Kuntu Mancilan sendiri sudah melegenda di Kota Pasuruan. Bahkan, padepokannya sudah berdiri sejak zaman penjajahan. Para pendekarnya konon juga ikut dalam peperangan.
Sayang, eksistensi perguruan pencak silat itu seolah tergerus zaman. Gus Ipul mengaku prihatin dengan kondisi tersebut. Dia menyebut, Kuntu Mancilan merupakan potensi kota yang seharusnya tetap dilestarikan.
Karena itu, peranan pemerintah menjadi penting untuk menjaga eksistensi perguruan pencak silat itu. “Kuntu Mancilan ini sebuah warisan budaya yang luar biasa. Mereka terus berusaha tetap eksis dan berkembang, tapi berjuang sendiri. Saya prihatin karena selama ini terkesan dibiarkan, tidak ada perhatian,” ungkap Gus Ipul usai berkampanye.
Dia memastikan, apabila mendapat amanah memimpin Kota Pasuruan bersama Mas Adi, akan melestarikan pencak silat Kuntu Mancilan. Apalagi, padepokan Kuntu Mancilan sudah melahirkan banyak pendekar yang hebat dalam hal keilmuan bela diri.
Salah satu strategi yang akan digencarkan yakni dengan promosi besar-besaran untuk menjaga eksistensi Kuntu Mancilan.
“Ini bisa jadi ikon Kota Pasuruan. Mereka harus diberi ruang dan kesempatan. Setidaknya dalam acara-acara pemerintahan, nanti akan dibuka dengan penampilan para pendekar Kuntu Mancilan,” jelas Gus Ipul.
Selain menjaga eksistensi, kata Gus Ipul, Kuntu Mancilan juga harus diberikan wadah untuk menorehkan prestasi. Dengan begitu, juga bisa mengharumkan nama Kota Pasuruan melalui berbagai perhelatan.
“Yang terpenting, pencak silat ini bukan sekadar olahraga. Tapi ada nilai-nilai seni, ada nuansa keindahannya, sekaligus spirit perjuangan. Kami ingin aset berharga ini tidak sampai hilang tertelan zaman,” jelasnya. (tom/mie) Editor : Jawanto Arifin