----------------------
SEJUMLAH pria dan wanita tampak duduk di atas gazebo dekat dengan bibir pantai. Mereka lantas mengambil smartphone yang berada di genggaman tangan. Dengan pose beragam, mereka bergaya di depan kamera. Tak cukup sekali, berulang kali swafoto itu dilakukan.
Pemandangan ini rutin terlihat di Pantai Karang Hitam, Desa Wates, Kecamatan Lekok setiap petangnya. Maklum, pengunjung sengaja datang untuk menunggu saat matahari terbenam agar bisa swafoto. Sejumlah lokasi dan fasilitas yang tersedia pun jadi tempat bagi pengunjung untuk berswafoto.
Salah satu pengunjung asal Desa Rejoso Lor, Hamid mengungkapkan ia sengaja datang untuk menikmati pemandangan Pantai Karang Hitam. Pasalnya, pantai setempat memiliki keindahan yang eksotis.
Ia sendiri mengetahui Pantai Karang Hitam dari temannya yang sudah pernah datang ke pantai setempat. Dan ia merasa sangat puas. Sudah banyak fasilitas yang menarik di Pantai Karang Hitam. Seperti Gazebo, Cafe dan Jembatan Kasih. Fasilitas ini bisa digunakan untuk berswafoto. Ia sendiri sempat berulang kali mengambil foto di lokasi tersebut. Pihaknya puas dan bakal ke lokasi ini kembali ke depannya.
"Lokasinya sangat instagramable buat swafoto. Bisa dibagikan ke media sosial yang dimiliki. Besok besok saya mau ke sini lagi," ungkapnya.
Pengunjung lainnya asal Desa/Kecamatan Nguling, Mustofa menjelaskan, dia sengaja datang ke Pantai Karang Hitam bersama keluarganya untuk menyegarkan pikiran usai beraktivitas selama sepekan. Lokasi ini dipilih karena ia ingin tahu keindahan pantai setempat. Apalagi banyak orang yang bilang padanya jika pantai ini tidak kalah menarik dengan destinasi wisata lainnya di Kabupaten Pasuruan.
Menurutnya, fasilitas yang dimiliki sudah mencukupi. Fasilitas yang dibutuhkan bagi tempat wisata sudah dipenuhi oleh Pantai Karang Hitam. Mulai dari musala, kamar mandi, cafe, hingga lokasi parkir yang aman. Apalagi ia menilai tiket masuk dan biaya parkirnya sebanding dengan keindahan yang dimiliki. Termasuk harga makanan dan minuman (mamin) di lokasi ini, juga ramah di kantong.
"Kami berharap ke depannya fasilitas yang dimiliki semakin baik. Termasuk kebersihan dan kemudahan untuk masuk ke jalur setempat. Supaya pengunjung jadi lebih nyaman saat datang untuk rekreasi pada akhir pekan atau hari libur," sebutnya.
Kepala Desa Wates, Mulyadi menerangkan, nama Pantai Karang Hitam ini dipilih karena di pantai setempat banyak karang dan berwarna hitam. Pantai ini pertama kali ditemukan pada 2019 lalu oleh pemuda setempat. Pengembangannya dimulai pada 2020, dan di awal pantai ini bebas masuk tanpa dipungut biaya apapun. Pemungutan biaya masuk dan parkir baru dimulai pada Agustus lalu.
"Untuk parkir ditarik Rp 2.000 baik itu mobil maupun sepeda motor, sementara biaya masuk dikenakan Rp 3000 per-orang. Baru dua bulan berjalan. Ini atas pertimbangan karena lokasi semakin ramai dan supaya kendaraan pengunjung aman. Pengelolaan sepenuhnya dilakukan oleh karang taruna desa," sebut Mulyadi.
Ia mengaku uang retribusi dari parkir dan tiket masuk ini masih belum dimasukkan ke dalam pendapatan asli desa. Retribusi ini murni digunakan untuk kebersihan, keamanan dan pengembangan termasuk pembangunan fasilitas yang ada. Mulai dari musala, lapak bagi pedagang kaki lima (PKL), kamar mandi dan fasilitas lainnya. Sisanya untuk kesejahteraan bagi karang taruna yang terlibat.
Ke depannya, ia berkeinginan agar pantai Karang Hitam ini bisa semakin dikenal masyarakat. Sehingga pengunjung yang datang bukan hanya dari Pasuruan saja.
Selama ini, pengembangan murni dilakukan oleh Karang Taruna setempat. Agar lebih dikenal, selama ini, karang taruna mempromosikan dari mulut ke mulut. "Kami ingin pantai Karang Hitam ini jadi lebih baik. Karena ini aset milik desa. Kami ada niatan untuk membentuk badan usaha milik desa (Bumdes) sehingga bisa lebih berkembang. Diharapkan bisa menyumbang PAD dan kesejahteraan bagi desa," sebut Mulyadi. (riz/fun) Editor : Jawanto Arifin