--------------
MAS Adi, begitu Adi Wibowo biasa dipanggil. Dia lahir dan besar di Temanggung, sebuah kota di Jawa Tengah. Adi menghabiskan masa kecilnya di kota kelahirannya hingga tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Kemudian melanjutkan jenjang pendidikannya dengan mendaftarkan diri di Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Jember (Unej).
Masa-masa kuliah tidak hanya dihabiskan pergi kuliah, belajar dan pulang. Sebaliknya, Adi aktif ikut organisasi dalam kampus. Diantaranya aktif di Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia, Jember. Kemudian juga berorganisasi melalui Himpunan Mahasiswa Islam.
“Waktu kuliah dulu aktif menulis, utamanya tentang pergerakan-pergerakan mahasiswa saat itu,” kata Adi.
Lulus dari Unej, fans berat Gus Dur ini kemudian melanjutkan studinya ke Strata 2 (S2) di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia. Di kampus UI, ilmunya di bidang politik mulai terasah. Hingga akhirnya suami dari Suryani Firdaus ini bergabung menjadi Tenaga Ahli di DPR RI.
Ditanya pengetahuannya tentang kota Pasuruan, Adi menjelaskan, sejatinya dirinya sudah mengenal sedikit banyak. Pengetahuannya tersebut didapatnya ketika mencalonkan diri sebagai calon legislatif (caleg) DPRD Jawa Timur pada pemilu 2019 lalu di Dapil Pasuruan-Probolinggo.
“Tahun lalu saya sudah riwa-riwi menjaring aspirasi masyarakat di Kota Pasuruan. Dari situ sudah saya pelajari apa yang menjadi persoalan dan keluhan masyarakat yang belum terselesaikan,” jelas lelaki yang namanya muncul sebagai Wakil Wali Kota melalui penjaringan di internal Golkar ini.
Ditambahkannya, keluhan dan persoalan masyarakat tersebut menjadi pekerjaan rumah (PR) utama yang akan diselesaikan jika terpilih sebagai wakil wali kota. “Paling tidak saya sudah mengantongi hal-hal urgent yang harus segera diberikan solusi di tengah masyarakat,” kata bungsu dari 4 bersaudara ini.
Sejumlah langkah juga sudah dipersiapkan oleh Adi guna terus menggali dan menjaring aspirasi masyarakat. Dalam waktu dekat, Adi sudah mengagendakan pertemuan dengan beberapa tokoh masyarakat, tokoh agama hingga komunitas-komunitas yang ada di Kota Pasuruan
Sementara ketika disinggung masih melekatnya stigma di masyarakat bahwa pemimpin haruslah putra daerah, Adi menganggap hal itu sah-sah aja. Menyikapi stigma pemimpin putra daerah ini, Adi memiliki pemikiran lain.
“Menjadi calon pemimpin daerah itu hak semua orang. Dengan catatan punya kapasitas dan kapabilitas. Yang tak kalah penting punya kemampuan manajerial serta program yang ditawarkan dan visi-misinya harus disesuaikan dengan karakteristik daerah,” tandas Adi. (unt/adv) Editor : Jawanto Arifin