“Kendati jumlah nelayan hampir 10 ribu, namun tercatat jumlah perahu memang hanya 7 ribu saja. Sehingga, ada 3 ribu nelayan tradisional yang terdata belum memiliki perahu sendiri,” terang Alamsyah Supriadi, kepala Bidang Kenelayanan Dinas Perikanan Kabupaten Pasuruan.
Menurutnya, pekerjaan nelayan memang banyak diwariskan dari turun-temurun. Sehingga, ada yang satu perahu dipakai satu keluarga dari kakek, kemudian anaknya, dan akhirnya dilanjutkan oleh cucunya.
Biasanya, mereka melaut bersama untuk mencari ikan sehingga hanya membutuhkan 1 perahu untuk melaut. Selain itu, harga perahu memang cukup mahal. Sehingga, ada juga yang sifatnya menjadi Anak Buah Kapal (ABK) dan ikut melaut bersama pemilik perahu.
“Ada juga yang sifatnya menyewa, nanti sistemnya bagi hasil. Untuk yang ikut melaut dengan pemilik perahu juga pembagian hasil ikan dibagi sesuai kesepakatan,” terangnya.
Dikatakan Alamsyah, mayoritas pemilik perahu di Kabupaten Pasuruan adalah perahu jenis kecil atau di bawah 3 GT. Saat melaut, satu perahu bisa memuat 2-3 nelayan. Yang lebih besar, bisa mencapai 8-10 orang.
“Sehingga memang lumrah nelayan melaut bersama-sama, ada yang memiliki perahu ada juga yang menjadi ABK,” terangnya. (eka/mie) Editor : Jawanto Arifin