Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Informasinya, hujan melanda wilayah setempat selepas magrib sekitar pukul 18.00. Intensitas hujan yang turun petang itu cukup deras. Akibatnya ruas jalan dan permukiman warga pun tergenang air.
Air mencapai puncaknya sekitar pukul 23.00. Saat itu ketinggian air mencapai dengkul pria dewasa atau sekitar 80 sentimeter. Air ini tetap tidak surut hingga siang hari. Akibatnya, warga pun tidak bisa melintas dengan menggunakan motor.
Meski demikian, aktivitas tetap berjalan normal. Namun, warga terpaksa harus berjalan kali atau menggunakan sepeda untuk melintas. Bahkan, pelayanan di balai desa pun tetap berjalan seperti biasa. Air baru mulai surut kemarin (3/1) sekitar pukul 11.00.
Tokoh masyarakat Desa Sadengrejo, Hudan Daldiri mengungkapkan, banjir ini merupakan yang kedua di tahun 2020 ini. Sebelumnya pada Rabu malam, banjir serupa juga sempat melanda Sadengrejo hingga Kamis siang. Kondisinya pun hampir serupa.
Ia mengaku kondisi ini tidak terlepas dari tidak tuntasnya pengerjaan sudetan dan drainase oleh pihak tol Gempol-Pasuruan (Gempas). Akibatnya hujan yang turun tidak bisa mengalir ke wilayah utara dan merendam wilayah Sadengrejo selama 12 jam.
Ia menyebut pihak tol Gempas sempat berjanji untuk melakukan perbaikan drainase dan sudetan di utara balai desa, baik di sisi barat dan timur. Ini sebagai solusi banjir yang melanda wilayah setempat pada awal 2019 lalu dimana air juga tidak bisa mengalir lancar ke utara karena ada overpass.
Saat ini drainase dan sudetan sendiri sudah rampung. Namun, janji dari pihak tol untuk melakukan normalisasi belum terlaksana hingga kini. Sehingga, drainase yang ada masih dangkal dan penuh dengan lumpur serta membuat aliran air tidak maksimal.
"Perkataan mereka jika menormalisasi itu tidak ada sama sekali. Drainase yang ada dangkal. Jadi ya begini, banjir,"sebut Hudan.
Sementara itu, Pimpinan Proyek (Pimpro) Tol Gempas Eko Budi Siswandi menerangkan, Jasamarga sudah mambangun semua fasilitas sesuai dengan kesepakatan yang ada. Mulai dari sudetan hingga permintaan drainase.
"Daerah tersebut memang merupakan daerah rawan banjir. Upaya dari kami adalah dengan memberikan rumah pompa untuk meminimalkan banjir," sebut Eko. (riz/mie) Editor : Jawanto Arifin