FAHRIZAL FIRMANI, Pohjentrek
SEJUMLAH pria dan wanita tampak berkerumun di teras depan bangunan berukuran 6 x 8 meter. Dengan berpakaian rapi, mereka bersalaman satu sama lain dengan penghuni rumah bercat putih itu. Mereka lantas menikmati hidangan yang disuguhkan oleh tuan rumah.
Pemandangan itu terlihat di Desa Sukorejo, Kecamatan Pohjentrek, Minggu (11/8) pagi. Maklum saja, hari Minggu itu bertepatan dengan hari raya Idul Adha dalam kalender Islam. Selama seharian, warga setempat melakukan tradisi silaturahmi untuk merayakannya.
“Ini bentuk syukur dari kami sebagai umat Muslim karena kembali mendapatkan kesempatan untuk merayakan Idul Adha. Makanya, setiap masyarakat di sini menghidupkan tradisi silaturahmi,” ungkap Pengasuh Ponpes Manarul Huda KH Abdul Mutholib.
Ia menjelaskan, tradisi ini sudah turun temurun dilaksanakan setiap tahunnya. Ini, tidak terlepas dari gagasan tokoh ulama, Mbah Soleh pada 1930 silam. Saat itu ia mengajak para santrinya untuk menghidupkan budaya silaturahmi saat Idul Adha.
Saat pertama kali dilakukan, tradisi silaturahmi ini hanya dilakukan di satu dusun, yakni Dusun Suko. Namun, seiring waktu berjalan, tradisi ini dihidupkan di seluruh Desa Sukorejo. Mulai dari Dusun Suko, Dusun Duyo, hingga Dusun Rujak Sente.
“Mbah Soleh ingin agar masyarakat sini tidak hanya gembira saat perayaan Idul Fitri saja. Namun, juga saat perayaan Idul Adha. Dan beliau berwasiat agar tidak dihilangkan. Ternyata setiap tahun, semakin meriah,” terangnya.
Kades Sukorejo Muhammad Zuhdi menerangkan, tradisi di Desa Sukorejo yang selalu hidup setiap Idul Adha adalah jamuan dan makanan. Berbeda dengan saat Idul Fitri yang hanya tersedia camilan, saat Idul Adha, setiap warga selalu menyiapkan hidangan bagi warga yang berkunjung.
Hidangan ini pun bebas sesuai kemampuan dari masyarakat, mulai dari bakso, rawon, hingga soto. Selain itu, camilan yang tidak boleh dilewatkan saat Idul Adha adalah tape dan tetel. Kedua camilan ini pasti tersedia di setiap rumah.
“Pemdes sendiri selalu mendukung tradisi ini. Sebab, silaturahmi ini kan banyak positifnya. Kami juga meminta bantuan ke Polsek Pohjentrek terkait keamanannya. Tentunya, kami berharap tradisi ini tetap lestari,” terang Zuhdi. (mie)
Editor : Muhammad Fahmi