Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Anwar Sanusi, Penggemar dan Kolektor Karya Rhoma Irama asal Pasuruan

Jawanto Arifin • Jumat, 26 Juli 2019 | 18:11 WIB
Photo
Photo
Selain dikenal sebagai seniman pelukis kaligrafi, Anwar Sanusi, warga Gununggangsir, Kecamatan Beji, ini rupanya penggemar garis keras Rhoma Irama. Tak hanya mengoleksi ratusan kaset sejak tahun 1960-an. Kedua putranya bahkan dinamai dengan idolanya tersebut.

ERRI KARTIKA, Beji, Radar Bromo

Siapa yang tak kenal dengan Rhoma Irama. Penyanyi senior yang dikenal dengan Raja Dangdut ini merupakan artis multitalenta. Selain kepiawaian bernyanyi bersama Soneta, filmnya yang bertema dakwah banyak digandrungi masyarakat.

Tak heran, penggemar Rhoma Irama sangat banyak. Bahkan, banyak di antara mereka yang membuat klub. Yang cukup besar adalah FORSA atau Fans of Rhoma Irama and Soneta. Salah satunya adalah Anwar Sanusi, 49, warga Dusun Selokambang, Desa Gununggangsir, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan.

Saat Jawa Pos Radar Bromo datang ke rumahnya, Sabtu (20/7) siang, alunan lagu Darah Muda terdengar sayup dari teras rumah. Begitu  masuk rumah, cukup banyak karya lukisan kaligrafi yang terpasang. Yang paling mencolok adalah dua lemari dari kayu jati yang memajang ratusan kaset dan video.

Di sisi kanan ruang tamu, ada lukisan Rhoma Irama setengah badan yang terpajang dengan wajah tersenyum. Juga ada dua lemari kaca segi empat yang memajang kaset-kaset lawas karya Rhoma Irama. Termasuk puluhan film yang dibintangi oleh Raja Dangdut tersebut.

Jawa Pos Radar Bromo memang sudah janjian sebelumnya bertemu dengan Anwar, panggilannya. Sehingga, di tengah ruang tamu sudah disiapkan ribuan lembar kliping yang dihimpun sejak tahun 1990-an.

“Dulu suka Rhoma Irama sebenarnya karena orang tua suka. Jadi, tiap ada album baru, orang tua saya pasti beli dan saya juga mendengarkan,” terangnya.

Namun, hidup Anwar memang tak selalu mulus. Setelah menjadi yatim-piatu saat kelas 5 SD, anak sulung dari 3 bersaudara ini pindah ikut saudara. Namun, kenangan manis dengan Rhoma Irama bersama orang tuanya selalu hidup di hatinya.

“Saat TK sempat melihat ke Bioskop Bangil untuk pertama kalinya. Film yang ditonton saat itu saya inget film Berkelana,” ceritanya.

Tak hanya menonton dari bioskop. Film- film Rhoma Irama banyak diputar di layar tancap saat ada hajatan. Bahkan, sampai kini, saat diputar di TV, Anwar tetap menonton film-film lama idolanya tersebut.

Sebelumnya karena hidup masih serba terbatas, Anwar tidak pernah terpikir untuk mengkoleksi karya-karya Rhoma Irama. Kendati rutin membeli setiap ada album baru.

“Tapi kalau dipinjam gak kembali, kadang juga hilang. Jadi, saat kecil gak kepikiran buat dijadikan koleksi,” terangnya.

Niat mengelokesi muncul saat dia kuliah di Jurusan Seni Rupa, Universitas Negeri Surabaya. Anwar yang saat itu mengikuti pameran di Istiqlal, Jakarta, bertekad kalau lukisannya laku, bakal dibelikan kaset-kaset Rhoma Irama yang belum dimilikinya.

“Ternyata ada yang beli orang Medan. Saat itu tahun 1993 dan lukisan saya laku Rp 1,2 juta. Akhirnya uang tersebut saya bawa ke Pasar Wonokromo di Surabaya buat beli kaset-kaset yang saya belum punya,” terangnya.

Di tahun itu pula, Anwar serius mengoleksi karya-karya Rhoma Irama. Untuk kaset dan album lagu, saat ini lebih dari 300 kaset. Yang paling tua adalah album Ingkar Janji tahun 1968 dan Uang tahun 1969. Sedangkan film VCD yang original dipunyai kurang lebih 26 film.

Tak hanya itu, Anwar juga mengoleksi pamflet bioskop, poster film asli, dan tiket bioskop. Koleksi itu mudah didapat. Sebab, ada teman SMPN 1 Pasuruan yang kakaknya bekerja di Bioskop Kusuma Pasuruan saat itu.

“Jadi saya mesti minta kalau ada selebaran atau poster Rhoma Irama. Sempet nyesal juga karena waktu itu sebagian juga saya pakai sampul buku, sebagian masih saya simpan sekarang,” terangnya.

Kegemarannya pada Rhoma Irama juga dilakukan dengan membuat kliping berita di koran dan majalah. Saat ini ada 4-5 bundelan kliping koran dari tahun 1983 yang masih disimpannya. Termasuk rekaman, setiap Rhoma Irama live di TV, juga disimpannya.

“Dulu pake pita kaset recorder dari tv, saya rekam di pita kaset. Kalau sekarang saya pakai digital di PC. Total saat ini kurang lebih ada 4 hardisk masing-masing 1 tera,” terangnya.

Sebagai fans garis keras, Anwar mengaku pernah bertemu, bahkan masuk ke Studio Soneta di Depok pada 2001. “Jadi, memang sudah pernah ketemu. Dan yang saya suka, beliau ramah,” terangnya.

Bagi Anwar, yang disukainya dari Rhoma Irama yaitu karyanya yang khas dan bertema dakwah. Rhoma juga terus berkarya kendati saat ini usianya sudah berkepala 7.

Anwar bahkan selalu melakukan proses kreatif sebagai seniman sambil mendengarkan lagu-lagu Rhoma Irama. “Melukis kaligrafi sambil mendengarkan lagu-lagu Rhoma Irama itu jadi makin semangat. Saya berpikir, kami sama-sama berdakwah, tapi di jalur yang berbeda. Beliau di seni musik dan film, saya di jalur seni lukis kaligrafi,” terangnya.

Hobi Anwar sendiri sudah dimaklumi oleh istri dan kedua putranya. Bahkan, dua anaknya akhirnya ikut-ikutan suka Rhoma Irama.

Yang menarik, Anwar menamai kedua putranya dengan Rhoma Irama. Yang pertama, masih kelas 3 SD, dinamai Ahmad Zulfikar Irama. Sedangkan yang masih TK bernama Muhammad Syahrial Rhomadon.

“Jadi yang pertama saya kasih Irama dan yang kedua saya beri ada Rhomadon dari Rhoma. Jadi Rhomadon karena lahir di bulan Ramadan,” terangnya.

Kini, sudah banyak koleksi yang dimilikinya tentang Rhoma Irama. Namun, Anwar mengaku masih ingin memiliki piringan hitam album Rhoma.

“Tapi sayangnya cukup mahal harganya, bisa sampai jutaan. Tapi nanti kalau ada uang ingin mengoleksinya juga,” ungkapnya. (hn) Editor : Jawanto Arifin
#forsa #rhoma irama #penggemar rhoma irama