LIMA orang remaja tampak sibuk mengelilingi kain tebal putih di Taman Pekuncen, Kota Pasuruan. Dengan spidol warna hitam, mereka membuat pola, memberi shadow di kain banner sepanjang 7 meter. Yang menarik gambar manual yang mereka buat tampak ramai dengan gambar kartun. Namun tetap menarik karena unik dan ramai.
“Kami lagi diminta membuat desain photobooth untuk kegiatan teman di IKIP Pasuruan. Jadi pada kumpul untuk bantu bareng-bareng buat banner yang temanya Doodle Art,” terang Anindya Safira, 21, warga Kelurahan Bugullor, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan.
Anindya yang juga anggota komunitas Pasuruan Doodle Art (Pasda) mengatakan, komunitasnya memang dekat dengan komunitas lain di Pasuruan. Sehingga sering join bareng kegiatan, termasuk salah satunya membantu desain photobooth yang dibuatkan dengan gratis.
Doodle Art sendiri merupakan seni teknis menggambar yang cukup populer dalam beberapa tahun ini. Uniknya, Doodle Art ini memang terkesan corat-coret tanpa arah. Bahkan alirannya abstrak namun tetap unik dan menarik.
Anindya mengatakan bahwa bahwa Doodle Art memang terkesan gambarnya bertumpuk-tumpuk. Namun setiap orang mempunyai gaya menggambar Doodle Art sendiri. Ada yang berupa monster, karikatur atapun abstrak.
Untuk Pasda resmi terbentuk 19 November 2016 lalu. Awalnya sejumlah muda-mudi di Kota Pasuruan sama- sama menyukai kegiatan menggambar. Kemudian Alfan Hidayanto, salah satu anggota Pasda, berinisiatif mengajak teman-teman sebaya yang suka Doodle Art untuk meet up dan akhirnya terbentuknya Pasda awal pertama kali.
Awalnya dari 6 orang kini anggotanya kurang lebih mencapai 42 anggota. Termuda ada yang masih duduk di bangku kelas 5 SD. Rata-rata anggota Pasda adalah pelajar, mahasiswa, seniman, ada juga yang guru dan wiraswasta.
Doodle Art sendiri dikatakan memang sejenis gambar corat-coret. Setidaknya ada beberapa pakem dalam membuat seni Doodle Art. Ada yang Doodle Art monster atau menggunakan unsur-unsur benda mati, ada yang Doodle Art Zentatol atau menggambar jenis bunga atau batik, Ada juga Doodle Art Mandala yaitu dengan corak pakem lengkap.
“Biasanya setiap orang ada khas kesukaan tersendiri dalam membuat Doodle Art, sehingga gambar tiap orang biasanya mudah dikenali ini gambar siapa-siapa,” terangnya.
Untuk orang yang sama sekali tidak bisa menggambar, teknis menggambar Doodle Art ini cukup mudah dipelajari. Jika tekun berlatih, dalam sebulan sudah bisa menggambar teknik Doodle Art.
Anindya sendiri mengaku juga serius menggambar setelah ikut komunitas Doodle Art dan kini bahkan menjadi tambahan penghasilan di luar pekerjaannya sebagai staf admin di sebuah perusahaan kontraktor.
Sedangkan kegiatan komunitas pasda sendiri rutin berkumpul 2 minggu sekali di Taman Pekuncen, Kota Pasuruan. Dari komunitas adalah wadah untuk sharing dan belajar bersama terkait seni Doodle Art itu sendiri. “Meskipun banyak juga anggota komunitas yang akhirnya lebih berkembang dan mendalami teknik melukis lain seperti abstak, karikatur sampai realis,” terangnya.
Dari Pasda juga rutin ikut berbagai kegaitan komunitas lain, salah satunya membantu desain dan join saat ada kegiatan bakti sosial.Sedangkan untuk pameran sendiri memang belum pernah dilakukan. Namun rencananya saat Anniversary Komunitas Doodle Art se Jawa Timur, Agustus mendatang, Pasda juga akan ikut serta terlibat pameran.
Tak hanya belajar menggambar dan berjejaring. Anindya mengaku dari kreasinya cukup banyak menghasilkan materi dari kreatifitasnya. “Kalau secara komunitas juga ada, namun personal juga banyak yang meminta desain. Apalagi desain Doodle Art ini kan juga populer dan disukai khususnya anak muda,” terangnya.
Untuk desain kafe biasanya terlibat beberapa orang anggota. Sedangkan desain-desain seperti pigura dan ukuran lebih kecil biasanya dihargai Rp 80 ribu. “Walaupun pernah juga dibuatkan desain pigura tapi dibayar pulsa Rp 5 ribu. Karena yang minta tolong anak sekolah, ya diterima saja,” terangnya sambil tertawa.
Komunitas ini juga terbuka bagi anggota yang ingin bergabung. Mereka juga memiliki akun sosial media. (eka/fun) Editor : Fandi Armanto