Janji itu terungkap dalam pertemuan di kantor Pemkab Pasuruan, Jl. Hayam Wuruk Kota Pasuruan, Kamis (17/1). Pertemuan ini dihadiri warga Desa Sadengrejo, PT JPG, Camat Rejoso Komari, anggota DPRD, dan Polres Pasuruan Kota.
Koordinator warga Desa Sadengrejo Hudan Dardiri mengungkapkan, overpass yang dibangun oleh PT JPG sangat merugikan warga setempat. Pedagang keliling terpaksa harus ngetem di depan kantor desa karena tidak kuat untuk melewati overpass yang sangat menanjak.
Tidak hanya itu, kondisi ini juga menyulitkan siswa yang bersekolah menggunakan sepeda pancal sebagai sarana transportasi. Mereka terpaksa harus turun dari sepedanya dan memilih untuk menuntun saat melewati overpass.
Ia berharap PT JPG memenuhi permintaan warga setempat. Yakni, membangun terowongan di sisi timur overpass untuk sarana bagi pejalan kaki, lalu saluran sungai Sadengrejo di sisi timur balai desa setempat, dibuat lurus. Saluran irigasi sawah di sisi barat overpass, juga perlu dibuat lebih dalam.
Menurutnya, ada delapan gorong-gorong dan empat gorong-gorong di antaranya sudah dalam, sementara sisanya dangkal dan setinggi tanah sawah sehingga air harus meluber dahulu agar bisa mengalir ke utara.
Menurutnya, petani kerap merugi sejak ada pembangunan tol pada awal 2017 lalu. Pihaknya meminta saluran irigasi tersebut didalamkan satu meter sama dengan di sisi selatan. Sebab, selama ini sisi utara kering karena ada jalan tol.
“Kalau bisa, tuntutan warga ini dapat dipenuhi secepatnya. Jika sampai akhir 2019 ini tidak terealisasi, tidak menutup kemungkinan ada aksi lanjutan dari warga,” katanya.
Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Pasuruan Ahmad Sholeh memastikan jika pihaknya akan mengawal seluruh tuntutan warga tersebut. Pasalnya, warga setempat sudah merasakan dampak dibangunnya tol.
“Kami hanya berfungsi untuk memastikan aspirasi ini direalisasikan. Kami berharap agar jaminan hidup yang layak bagi warga setempat dapat terwujud,” ungkapnya.
Direktur Utama (Dirut) PT JPG Rahardjo menyebut pihaknya bakal memenuhi seluruh tuntutan warga. Namun, PT JPG masih perlu melakukan perencanaan dahulu. Seperti, desainnya dan anggaran yang dibutuhkan.
“Kami bakal membentuk tim bersama pemkab, warga, dan PT Pembangunan Perumahan (PP) selaku pelaksana untuk mempercepat realisasi. Insya Allah, sebelum tahun ini berakhir,” jelasnya.
Untuk diketahui, bencana banjir melanda Desa Sadengrejo, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan, Selasa (15/1) dini hari. Banjir ini bahkan tidak surut hingga siang hari. Akibatnya, aktivitas warga setempat pun lumpuh total. Genangan air mencapai ketinggian perut orang dewasa.
Tidak sedikit rumah warga yang tergenang. Sejumlah sekolah pun terpaksa harus meliburkan siswanya. Hujan melanda wilayah setempat sejak pukul 18.00, Senin (17/1) malam. Dan mencapai puncaknya sekitar pukul 03.00. Sedikitnya, ada empat dusun dan 500 kepala keluarga di Desa Sadengrejo yang terdampak.
Yakni, Dusun Sadeng, Rekasan, Selunglung, dan Bantengan. Tidak hanya itu, empat sekolah di desa setempat pun terpaksa meliburkan siswanya. Yaitu, SDN Sadengrejo 1, TK PKK, TK ,dan MI Baitus Sa'adah. Namun, warga memilih bertahan.
Tidak sedikit warga yang tetap nekat menerjang air harus mengalami mogok di tengah jalan. Aktivitas di kantor desa setempat pun ikut lumpuh. Kendati, pemdes tetap membuka pelayanan, banjir yang menggenang membuat balai desa sepi. (riz/fun) Editor : Fandi Armanto