MUHAMAD BUSTHOMI, Pasuruan
Belasan pemain muda itu tampak bersemangat. Mereka berlari mengitari lapangan di Stadion Untung Suropati Kota Pasuruan. Selepas itu, mereka berkumpul di satu titik. Melakukan gerakan-gerakan kecil untuk pelemasan otot. Mereka tergabung dalam tim Pasuruan Selection.
Sore itu, 15 pemain itu berlatih di bawah arahan Fatkhur Rozi yang menjadi asisten pelatih. Rutinitas latihan itu sudah berlangsung lama. Manajer Pasuruan Selection Aris Budi Prasetya menuturkan, tim besutannya itu sudah dibentuk sekitar setahun yang lalu.
Pemain yang direkrut, menurut pria yang disapa Aris ini, adalah jebolan dari beberapa sekolah sepak bola di Kota Pasuruan. “Yang dari Suryanaga ada dua pemain, sedangkan dari Aris Putra 12 pemain,” terangnya.
Meski bukan tim profesional, proses rekrutmen pemain tetap dilakukan dengan ketat. Aris membidik seluruh pemain yang tergabung dalam sekolah sepak bola di Kota Pasuruan. Selain potensi yang dimiliki tiap pemain, dia juga mempertimbangkan segi usia pemain.
Kebanyakan dari pemain Pasuruan Selection sendiri merupakan mereka yang kelahiran 2003-2004. Tim itu memang dikhususkan untuk para pemain muda. Dan, tentunya putra daerah, agar secara emosional mereka juga punya motivasi kuat memajukan dunia sepak bola di Kota Pasuruan.
Selain itu, pembinaan pemain muda juga diharapkan dapat mencetak putra daerah yang andal. Sekali dalam sepekan, mereka wajib mengikuti latihan. Terkadang digelar di Lapangan Futsal Aris Budi, kadang pula di Stadion Untung Suropati.
“Rencananya memang kami daftarkan di KONI. Namun, karena belum terealisasi akhirnya kita swadaya,” ujar Aris. Meski begitu, seluruh anak asuhnya antusias mengembalikan kejayaan sepak bola di Kota Pasuruan. Sejauh ini, mereka fokus pada peningkatan skill.
Pada November 2018 lalu, tim Pasuruan Selection sudah mengikuti turnamen sepak bola U-14 dalam ajang International Youth Football Tournament. Dari seluruh tim yang berkompetisi, Pasuruan Selection keluar sebagai juara.
Menariknya, karena tim tersebut dikelola secara swadaya, tentu imbasnya terkait dengan finansial. Bagaimana untuk menutupi kebutuhan tersebut? Akhirnya, setiap pemain rela merogoh koceknya demi mengikuti turnamen yang digelar di Lapangan Maestro, Surabaya itu.
“Kalau makan dan penginapan kan sudah disediakan panitia. Sedangkan kebutuhan akomodasi ke Surabaya itu mereka iuran,” jelas Aris.
Razan Mahirah, kapten tim mengaku tak keberatan apabila dirinya harus menyisihkan uang jajan demi iuran untuk keberangkatannya mengikuti turnamen. Ia bahkan menegaskan, keinginan kuatnya untuk menjadi pemain profesional.
“Saya cuma ingin membuat orang tua bangga. Jadi, tidak masalah meski harus iuran,” terang pemain asal Tembokrejo itu.
Sementara, Fran Adi Saputra juga mengaku bahwa orang tuanya sangat mendukung penuh keinginannya menjadi pemain sepak bola. Fran sendiri, sudah mencintai sepak bola sejak duduk di bangku sekolah dasar.
Rencananya, tim Pasuruan Selection akan kembali bertarung. Atas keunggulannya dalam turnamen di tingkat regional lalu, mereka akan menghadapi turnamen di level berikutnya. Pada 22 Januari mendatang, mereka harus berangkat ke Lembang mewakili Provinsi Jawa Timur.
Dalam turnamen kali ini, mereka akan menghadapi puluhan tim yang juga mewakili provinsi lain dari penjuru negeri. Tak berbeda dengan yang sebelumnya, mereka juga harus iuran untuk bisa berangkat ke Lembang. Kali ini, biaya keberangkatan tentu juga lebih tinggi. Kisaran Rp 700 ribu tiap pemain.
“Kami harap ke depan akan lebih baik. Karena dibentuknya tim ini tujuannya untuk mencetak bibit pemain andal. Sehingga, peluang pemain putra daerah kita lebih maksimal yang bisa bergabung di Persekap,” jelas Aris. (rf/fun) Editor : Jawanto Arifin