-----------------
Hamparan sawah akan menyambut jika berkunjung ke Desa Lebak. Saat Jawa Pos Radar Bromo berkunjung ke sana, kebetulan lahan pertanian milik warga sedang memasuki masa tanam di awal musim hujan. Bibit padi yang masih berwarna hijau, akan tumbuh subur.
Hanya saja, salah satu permasalah yang masih timbul adalah masih adanya genangan air terutama saat musim hujan. “Apalagi jalan juga ditinggikan, sehingga ada sebagian air yang akhirnya masuk ke pekarangan rumah warga,” jelas Qomarul Huda, kades Lebak.
Sehingga, tahun 2018 ini desa membangun gorong-gorong di Dusun Gondang. Karena jalan tinggi, air malah menggenang di depan rumah warga. Sehingga, dibuatkan gorong-gorong di selatan jalan dengan panjang 380 meter dengan kedalaman 70 cm. “Saat ini masih proses pengerjaan, namun harapannya musim hujan tahun ini genangan bisa terkurangi,” jelasnya.
Termasuk untuk memperkuat jalan, desa juga membangun plengsengan di Dusun Kecik. Awalnya, pembatas jalan ini berupa tanah dan rawan longsor jika terkena hujan. Sehingga, dibangunlah plengsengan dengan panjang 460 meter di kanan-kiri jalan dengan ketinggian 70 cm.
Persoalan lainnya di Desa Lebak adalah masih ada warga desa yang belum memiliki Mandi Cuci Kakus (MCK) di rumahnya. Sehingga, untuk kegiatan sehari-hari, memanfaatkan sungai yang ada di sekitar. Desa pun membangun MCK di rumah warga dengan per dusun kurang lebih ada 5 rumah yang dibangunkan MCK.
“Harapannya tidak ke sungai lagi, sehingga bisa hidup lebih bersih dan sungai juga tidak tercemar,” ujarnya.
Sedangkan untuk ketersediaan air, tahun ini desa juga membuat sumber air baru dengan melakukan pengeboran sedalam 70-80 meter. Sumber air sebelumnya airnya sudah agak keruh. Sehingga, di Dusun Gondang dibuatkan pengeboran air dan membuat pipanisasi 100 meter ke arah pemukiman dan 500 meter pipanisasi untuk mengalirkan air ke 58 rumah.
“Diharapkan dengan sumber air baru ini, air bisa lebih bagus dan bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari,” pungkasnya.
Industri Mebel Kerek Ekonomi Warga
Selain pertanian, industri kecil yang cukup banyak berkembang adalah perajin mebeler. Bahkan, saat ini tercatat kurang lebih ada 10 perajin mebel yang bahkan bisa mengerek tenaga kerja pemuda setempat.
Salah satunya adalah Zakaria, 38, perajin mebel asal Lebak ini mengatakan sudah mulai menjadi tukang sejak awal tahun 2000-an. “Dulu ikut orang 6 tahun, setelah bisa, buka usaha sendiri,” jelasnya.
Bahkan, saat ini dirinya bisa mempekerjakan 12 tenaga kerja dari warga sekitar. Untuk hasil mebel dari perabot ruang tamu, sofa, almari, dan sebagainya. Hasil buatannya paling banyak dikirim ke Madura termasuk ke kota di Jawa Timur seperti Jombang, Kediri, sampai Ponorogo.
“Untuk persaingan supaya laku, pintar-pintar kami memenuhi permintaan pasar dan pembeli. Misalnya, minta spon yang bagus atau motif sofa yang sesuai selera, kami ikuti. Dan, setiap Lebaran atau Maulid seperti ini permintaan selalu naik,” jelasnya.
Qomarul Huda, kades Lebak, Kecamatan Winongan sangat mendukung dengan makin banyaknya perajin mebel di desanya. Ini, lantaran selain mengerek tenaga kerja juga meningkatkan ekonomi Desa Lebak sendiri.
“Dan, permintaan rutin sepanjang tahun, khususnya saat momen tertentu seperti Lebaran bahkan sampai menambah tenaga kerja juga,” ungkapnya. Harapannya, pasar mebel bisa makin berkembang supaya lebih meningkatkan ekonomi Desa Lebak. (eka/fun)
Desa Lebak Kecamatan Winongan
Luas Wilayah: 167 hektare
Jumlah Penduduk: 1.920 penduduk
Jumlah RT/RW: 13/06
Jumlah Dusun: 5, Kecik, Gondang, Ketonggo, Lebak, Kenong
Potensi Desa
Pertanian: Padi
Peternakan: Bebek
UKM: Mebel, Rengginang, Pembuatan Atap Kandang Ayam Editor : Jawanto Arifin