ERRI KARTIKA, Winongan
Suasana Pasar Winongan Minggu pagi (18/11) tampak ramai dari biasanya. Maklum, beberapa hari menjelang Maulid Nabi, aktivitas jual-beli di pasar tradisional ikut terkerek. Terutama penjualan buah yang laris manis.
Di sekitar Pasar Winongan, suasana Maulid Nabi juga terasa di rumah pasutri Achmad Najich, 30 dan Tutik Mudzakiroh, 26. Di rumah pasutri yang memiliki lahan cukup luas tersebut, banyak terdapat darbuka siap kirim. Di rumah itulah pasutri ini membuat alat musik tersebut.
Saat dikunjungi, aktivitas produksi memang sedang libur. Namun, keduanya tetap sibuk karena mereka harus meladeni pembeli yang sudah menunggu. Tumpukan darbuka siap dikirimkan ke reseller mereka.
Achmad Najich mengatakan, menjelang Maulid ini, sudah 3 bulan terakhir permintaan terus tinggi. Sama seperti bahan makanan dan buah, alat tabuh ini juga banyak pemesan saat Maulid Nabi.
“Sampai berapapun produksi kami diminta semua karena ramainya permintaan alat musik darbuka menjelang Maulid Nabi ini,” jelasnya.
Najich -panggilan akrab Achmad Najich- mengatakan, bahwa memulai bisnis pembuatan darbuka lantaran tidak sengaja. Dulu sejak SMP dirinya memang ikut kelompok Albanjari, bahkan sampai sekarang.
Awalnya banyak yang minta diajarin dan akhirnya lama-lama pesan alat musiknya juga. Salah satu alat musik yang banyak dipesan adalah darbuka lantaran di Pasuruan memang belum ada penjualnya.
“Dulu saya pesan ke Kudus, Jawa Tengah. Sebulan bisa 4-5 buah. Akhirnya, baru kepikiran kenapa gak produksi sendiri,” jelasnya.
Najich mengatakan, dia memiliki ide saat baru menikah dengan istrinya, Tutik Mudzakiroh yakni sejak tahun 2012 lalu. Sebagai pedagang toko kelontong, awalnya Najich mengaku antusias mencoba mencari cara membuat alat musik darbuka.
“Jadi awalnya saya pesan ke perajin logam di Mayangan, Kota Pasuruan, untuk membuat model awalnya yang berbahan dari aluminium. Tapi lambat laun ternyata produksi gak nututi karena permintaan makin tinggi,” jelasnya.
Akhirnya, tahun 2013 Najich pun mencari karyawan yang punya basic perajin logam. Sehingga, semua produksi dari pengecoran, bubutan atau penghalusan bentuk, finishing atau painting dilakukan di rumah mereka. Semuanya dipermudah lantaran Najich juga punya basic pemain Albanjari. Sehingga, dia sendiri bisa menjadi tester terakhir untuk mengetahui kualias darbuka sebelum dikirim ke reseller.
Alat musik darbuka memang sudah lama ada dan masuk di Indonesia. Biasanya dipakai untuk kelompok Albanjari sampai musik band. “Namun, justru makin populer 3 tahun terakhir ini sejak dipopulerkan oleh Ahbabul Musthofa, grup Albanjari dari Solo,” terangnya.
Semenjak itu, permintaan darbuka memang makin banyak. Tak hanya kelompok Albanjari yang membeli, tapi juga perseorangan yang suka dengan musik pukul ini pun banyak yang memesan.
Selama ini, Najich dan Tutik Mudzakiroh sering berjualan lewat sosial media. Tak sekedar berjualan. Keduanya kerap mengkampanyekan untuk mengenalkan alat musik darbuka untuk siapapun.
“Ternyata responsnya juga bagus. Karena daripada bermain gadget, orang tua lebih suka membelikan darbuka untuk belajar alat musik anaknya,” terangnya.
Saat ini mereka sudah memiliki 4 karyawan. Dalam sehari bisa menyelesaikan 15-20 darbuka. Untuk ukuran ada 3 jenis, yaitu 8,5 inchi, 8,75 inchi, dan 9 inchi dengan berat 4-5 kilogram. Untuk harga bervariatif mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah.
Untuk memaksimalkan penjualan, Najich memaksimalkan reseller. Selain banyak menggunakan teman komunitas Albanjari di Pasuruan dan kota lain, juga ada yang di toko. Tercatat penjualan mereka sudah ke semua kota di Indonesia termasuk sampai ke Malaysia.
“Saat menjelang Maulid Nabi ini sampai kita tidak punya stok, bahkan meminta semua stok karena permintaan tinggi sampai lipat 3 dari biasanya,” jelasnya.
Menurut Najich, yang berbeda dari hasil produk mereka adalah konsumen bisa meminta desain khusus untuk darbuka mereka. Seperti ada logo grup ataupun nama pemiliknya. Karena itu, permintaan terus laris dan diperkirakan akan terus tinggi, terutama musik Albanjari saat ini makin banyak digemari masyarakat Indonesia. (fun) Editor : Jawanto Arifin