MUHAMAD BUSTHOMI, Nguling
Semua itu berawal sejak tahun 2010 silam. Tepatnya saat Ahmad Taufiq dalam perjalanan pulang membawa hasil tangkapannya dari laut di pesisir Pasuruan. Di sepanjang jalan itu, Taufiq menjumpai banyak limbah. Di antaranya kayu bekas, botol mineral, hingga tulang ikan berserakan.
Semua itu memang barang-barang yang telah terbuang. Sebagian sengaja dibuang lantaran tak terpakai dan dianggap tak memiliki nilai guna. Akan tetapi, Taufiq memandangnya dari sisi lain. Dari sanalah, benaknya mulai dipenuhi banyak angan-angan. Ia mulai memunguti satu per satu limbah-limbah itu. Lantas dibawanya ke rumahnya di Dusun Pesisir, Desa Mlaten, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan.
Saat senggang, Taufiq mulai menyapa limbah-limbah yang telah dikumpulkan itu. Sedari awal, Taufiq berencana untuk menyulap beragam limbah itu menjadi aneka miniatur. “Awalnya limbah itu saya kumpulkan saja. Lalu saya pilah mana yang bisa dimanfaatkan. Sebagian besar banyak tulang ikan yang saya kumpulkan,” terangnya.
Hobinya akan musik, kemudian mengarahkan Taufiq untuk berkreasi membuat miniatur beberapa peralatan musik. Seperti gitar dan drum. Ia pun tak setengah-setengah dalam mengerjakan. Segala macam peralatan seperti gergaji, cutter, penggaris, dan lem, dimanfaatkan.
Namun, semua itu tak berlangsung mulus. “Karena semua ini saya lakukan otodidak, hanya berdasarkan angan-angan ya agak rumit. Waktu awal-awal, sering gagal,” ujarnya.
Kendati demikian, Taufiq tak patah arang. Di luar jadwalnya melaut, ia selalu meluangkan waktu untuk kembali mengutak-atik limbah-limbah tersebut. Hingga akhirnya Taufiq pun berhasil menyelesaikan sebuah miniatur gitar dan motor. Tentu, hatinya kegirangan saat itu.
“Setelah berhasil, tentu ada kepuasan tersendiri. Dan, itu yang membuat saya terus bersemangat membuat bentuk miniatur lain,” jelasnya. Gairah Taufiq untuk berkreasi terus bertambah, ketika karyanya diapresiasi. Terlebih lagi, saat karyanya dibeli. “Banyak teman saya dari komunitas Vespa yang pesan,” katanya. Alasan itulah yang membuat Taufiq kian mengasah kreativitasnya dalam membuat beragam miniatur.
Hingga kini, Taufiq telah berhasil membuat beragam miniatur peralatan musik. Selain gitar dan drum, ia juga membuat seruling. Juga berbagai alat transportasi, seperti motor, mobil, hingga kapal. “Kadang juga membuat pigura dan lampu hias,” ungkapnya.
Untuk menyelesaikan sebuah miniatur, ia membutuhkan waktu selama dua hari. Selama proses pembuatan miniatur, kata Taufiq, yang terpenting ialah inovasi. Juga ketenangan dan ketelatenan. Tentu saja, pengerjaannya dilakukan dalam waktu senggang. Karena profesi utamanya yakni nelayan.
Namun, apa yang dikerjakan Taufiq tak terbuang percuma. Seluruh karyanya, dipajang di ruang tamu. Tak jarang, pundi rupiah berdatangan saat ada orang yang membeli buah karyanya. Sejauh ini, ia memang banyak menerima pesanan dari teman-temannya. Karyanya kini telah banyak dinikmati oleh temannya dari Sidoarjo, Mojokerto, hingga Jakarta.
Ia pun tak mematok harga tinggi. Menurutnya, harga setiap miniatur memang berbeda. Itu, disesuaikan dengan jenis dan tingkat kerumitan saat proses pembuatan. “Harganya dari Rp 100 ribu hingga Rp 500 ribu,” bebernya. Taufiq mengaku senang, jika ada orang yang tertarik dengan karyanya. Bukan soal uang yang utama, melainkan juga kepuasan diri yang ia dapatkan.
Meski begitu, bukan berarti Taufiq abai untuk soal materi. Ia sendiri tak menepis, bahwa hasil karyanya itu memang bisa ia jadikan peluang untuk menambah penghasilan selain dari laut. Menurutnya, kerajinan miniatur yang digelutinya kini memiliki prospek bagus.
Hanya saja, Taufiq sadar semua itu harus dibarengi dengan upaya untuk membesarkan usaha kerajinannya. “Dan itu tak mudah,” tuturnya. Selain membutuhkan modal, juga promosi tanpa henti. “Suatu saat saya ingin punya galeri untuk karya saya. Tapi kan butuh modal, ini saja saya pakai alat yang sangat terbatas,” katanya. (fun) Editor : Jawanto Arifin