Kejadian itu menimpa korban Selasa (30/5). Ketika itu, ia pergi ke ladang. Sementara anaknya, Muhammad, 30, pergi bekerja. Hanya ada Marhumah, 60, sang istri yang berjaga di rumah.
Kala itu, Marhumah sedang tiduran di ruang depan. Ruangan itu juga dijadikan toko untuk berdagang. Sekitar pukul 09.45, ia dikagetkan dengan suara orang yang membangunkannya dari tidur lelapnya.
Ia dibuat terjaga, setelah dikabari, kalau rumahnya kebakaran. Ia keluar rumah. Dan melihat kepulan asap membubung di atas rumahnya.
“Bangun-bangun, rumahmu kebakaran (dengan bahasa Madura, Red),” ungkap Marhumah menirukan ucapan orang yang membangunkannya dari tidur.
Sejumlah orang yang menyaksikan kejadian itu, berusaha melakukan pemadaman. Dengan menggunakan ember dan alat seadanya, mereka berusaha memadamkan api. Air pun disiramkan dengan alat seadanya tersebut.
Upaya pemadaman api tersebut tidak mudah. Bahkan, petugas damkar yang datang, dibuat kerepotan. Jalanan yang sempit, membuat proses pemadaman terkendala.
Api baru bisa dijinakkan sekitar pukul 10.30. Itu, setelah tim damkar bersama warga bersusah payah menghentikan kobaran api.
Insiden itu pun membuat atap rumah korban hangus terbakar. Semua perabotan di dalam rumah juga hampir semuanya ludes tak bisa terselamatkan. Bahkan, uang tabungan Rp 10 juta yang disimpan di lemari baju dan surat-surat penting korban, juga ikut ludes terbakar. “Semuanya ludes. TV yang baru beli, juga hangus,” akunya.
Kepala Dusun Krajan I, Desa Rejosari, Kecamatan Kraton, Sulton mengungkapkan, belum memastikan kerugian yang ditimbulkan akibat kejadian tersebut. Namun, imbas kejadian itu pula, atap rumah dan perabotan rumah korban hangus dilahap si jago merah.
Ia menduga, kebakaran itu dipicu korsleting pada salah satu kamar rumah tersebut. “Kemungkinan karena korsleting listrik,” sampainya. (one/mie) Editor : Jawanto Arifin