Kepala Dinkes Kota Pasuruan Shierly Marlena mengatakan, jumlah pasien yang mengalami gangguan penglihatan cukup tinggi. Sepanjang 2019, tercatat ada 831 penderita. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2018. Saat itu, ada 787 penderita. Paling banyak penyakit katarak.
“Gangguan penglihatan cukup rawan terjadi. Khusus untuk katarak memang meningkat dari tahun 2018 yang hanya 185 menjadi 208 penderita. Sejauh ini gangguan ini bisa ditangani. Khusus tahun ini, hingga Agustus lalu kami menerima laporan sebanyak 340 gangguan,” ujarnya.
Ia mengatakan, gangguan penglihatan yang dialami penderita masih tahap gejala awal, sehingga dapat segera tertangani. Yang patut diwaspadai dari gangguan penglihatan adalah penyakit katarak. Sebab, jika penderita terlambat melakukan pemeriksaan ke dokter, mereka bisa mengalami kebutaan.
Menurutnya, secara umum penyakit katarak disebabkan faktor usia, sehingga menyebabkan kekeruhan pada lensa. Penyebab lain bisa dikarenakan adanya peradangan atau glaukoma, diabetes militus, trauma pada mata, radiasi sinar ultraviolet. Trauma di mata ini bisa disebabkan luka karena benturan. Penyakit ini biasanya dialami orang yang sudah berusia di atas 40 tahun.
Shierly mengatakan, untuk mencegah masyarakat terkena gangguan penglihatan, Dinkes rutin melakukan screening atau pemeriksaan mata melalui puskesmas. Serta, membagikan kacamata gratis bagi yang mengalami gangguan penglihatan. Selain itu, ada pengobatan gratis setiap setahun sekali.
“Memang gangguan pada penglihatan masih cukup tinggi. Cuma selama ini temuan gangguan ini belum sampai pada tahap kebutaan. Kuncinya, penderita segera berobat agar tertangani,” ujar Shierly. (riz/rud/fun) Editor : Fandi Armanto