Potensi Kekeringan-Karhutla Masih Tinggi karena Masuk Puncak Kemarau

Fuad Alyzen • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 08:04 WIB
MASIH KEMARAU: Warga memantau hutan di lereng Welirang-Arjuna yang sempat terjadi kebakaran. Saat ini cuaca memasuki puncak kemarau. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)
MASIH KEMARAU: Warga memantau hutan di lereng Welirang-Arjuna yang sempat terjadi kebakaran. Saat ini cuaca memasuki puncak kemarau. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

 

PASURUAN, Radar Bromo–Fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat akan mempengaruhi kondisi cuaca di Jawa Timur. Ini juga berpengaruh terhadap cuaca Pasuruan dan Probolinggo yang perlu mewaspadai kondisi minim hujan. Sehingga potensi kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan masih sangat tinggi.

Berdasarkan perkembangan dinamika atmosfer-laut hingga dasarian I Agustus 2026, anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik Ekuator bagian tengah (Nino 3.4) tercatat +2,20. Kondisi tersebut menunjukkan El Nino dengan intensitas sangat kuat.

Sementara itu, Indeks Osilasi Selatan (SOI) juga menunjukkan nilai negatif dalam tiga bulan terakhir. Yakni -14,5 pada Mei, -24,9 pada Juni, dan -29,1 pada Juli.

Kondisi tersebut turut diperkuat dengan suhu muka laut di sebagian besar perairan Indonesia yang berada dalam kondisi normal hingga lebih dingin. Rata-rata anomalinya mencapai -0,04 derajat Celsius.

Prakirawan Stasiun Meteorologi Juanda Sidoarjo, Rendy Irawadi, mengatakan dinamika atmosfer-laut tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat peluang hujan di Jawa Timur cenderung rendah. “Perkembangan dinamika atmosfer-laut menunjukkan kondisi yang cukup kuat mendukung periode kering. Anomali suhu muka laut di sekitar Jawa Timur yang cenderung normal hingga lebih dingin tidak mendukung pertumbuhan awan hujan,” ujar Rendy.

Kondisi minim hujan tersebut juga perlu menjadi perhatian di Pasuruan dan Probolinggo, terutama terhadap potensi kekeringan, berkurangnya ketersediaan air serta meningkatnya risiko kebakaran lahan pada wilayah yang vegetasinya mulai mengering. Masuk puncak kemarau, potensi hujan minim hingga akhir agustus

Ketua Tim Layanan Data dan Informasi BMKG Kantor Stasiun Geofisika Suwarto menambahkan, Pasuruan dan Probolinggo kini berada di puncak kemarau. Kondisi seperti ini, lanjut dia, diperkirakan akan berlangsung sampai tanggal 30 Agustus mendatang.

Angin timuran atau Monsun Australia yang bersifat kering mendominasi wilayah Indonesia. "Menyebabkan sedikitnya pembentukan awan hujan, serta rendahnya kelembapan udara secara umum," ujarnya.

Selain itu, faktor penyebab utama antara lainnya dominasi angin monsun australia mengakibatkan kurangnya tutupan awan. "Serta suhu permukaan laut yang dingin. Perairan di sekitar Jawa Timur mengalami pendinginan yang mengurangi penguapan pembentukan awan," ungkapnya. (zen/zal/fun)

Editor : Abdul Wahid
bmkg cuaca musim kemarau