PRIGEN, Radar Bromo – Meski berstatus sebagai daerah industri, Kabupaten Pasuruan masih menghadapi tantangan ketenagakerjaan yang besar.
Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) setempat mencatat, tingkat pengangguran di wilayah ini menembus angka 4,22 persen, atau setara dengan 41.410 orang.
Kepala Disnaker Kabupaten Pasuruan Rahmat Syarifudin menegaskan, masalah ini menjadi atensi serius pemerintah daerah.
Untuk menekan angka tersebut, Disnaker mengintensifkan pelatihan berbasis kompetensi di UPT LKD Rejoso, menggelar job fair, serta menerapkan Training Need Analysis (TNA) agar kemampuan pencari kerja sinkron dengan kebutuhan pabrik.
Menurut Rahmat, tingginya pengangguran dipicu oleh faktor mismatch (ketidaksesuaian kurikulum sekolah dengan kebutuhan industri), bonus demografi, ketatnya persaingan dari luar daerah, serta minimnya kualitas soft skill pelamar.
"Kompetensi pencari kerja yang masih kurang, menjadi salah satu faktornya. Sehingga perlu diarahkan mengikuti pelatihan. Dan jumlah lulusan lembaga pendidikan, jauh lebih banyak atau tidak sebanding dengan jumlah kebutuhan perusahaan," ungkapnya.
Ketua DPK APINDO Kabupaten Pasuruan Nurul Huda memandang, daya serap industri formal saat ini, terbatas. Karena banyak korporasi yang beralih ke sistem padat modal.
Sebagai solusi, ia mendorong pemda mempermudah izin usaha dan memberikan insentif pajak bagi sektor padat karya.
"Sektor informal dan UMKM juga harus terus didorong, lewat pembinaan agar mampu menyerap tenaga kerja baru," terang Nurul. (zal/one)
Editor : Moch Vikry Romadhoni