PANDAAN, Radar Bromo – Tragedi kecelakaan maut di Simpang Empat Patung Sapi, Desa Tawangrejo, Kecamatan Pandaan, yang berulang kali merenggut korban jiwa menggugah kepedulian kalangan seniman dan budayawan.
Minggu (12/7), ratusan orang mengikuti doa bersama, tabur bunga, dan selamatan jenang sengkolo di lokasi yang dikenal rawan kecelakaan tersebut.
Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00 hingga 10.00 itu diinisiasi Forum Pamong Kebudayaan (FPK) Jawa Timur. Ini menjadi bentuk ikhtiar budaya sekaligus penghormatan kepada para korban kecelakaan di jalur nasional tersebut.
Ketua Umum FPK Jawa Timur Ki Bagong Sabdo Sinukarto menegaskan, kegiatan itu bukan agenda kelompok keagamaan tertentu. Menurutnya, forum yang dipimpinnya memilih pendekatan budaya untuk merespons musibah yang berulang di Simpang Patung Sapi.
"Acara intinya adalah tabur bunga dan selamatan jenang sengkolo. Tahlil tadi menjadi penutup. Karena ini aktivitas kebudayaan, kami mengambil sisi kulturalnya. Apa yang bisa kami lakukan ketika terjadi musibah seperti ini," ujarnya.
Semula, panitia hanya memperkirakan 30 hingga 50 seniman dan budayawan Pasuruan yang akan hadir. Namun antusiasme masyarakat jauh di luar perkiraan.
"Dari foto-foto yang kami terima, pesertanya sekitar 500 orang. Tidak hanya seniman dan budayawan Pasuruan, tetapi juga hadir seniman ludruk, musisi dangdut, jaranan, reog, sampai teman-teman pengamen jalanan. Komunitas lain juga ikut bergabung, termasuk PSMTI (Persatuan Masyarakat Tionghoa Indonesia)," katanya.
Jumlah jenang sengkolo yang dibagikan pun melonjak drastis. Awalnya panitia hanya menyiapkan sekitar 100 bungkus. "Alhamdulillah hari ini hampir tembus 1.000 pack jenang sengkolo yang kami bagikan kepada masyarakat," ungkapnya.
Usai tabur bunga dan pembagian jenang sengkolo, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama di Punden Mbah Nawangsari yang berada di Balai Dusun Ngglang, Desa Tawangrejo.
Kegiatan tersebut juga dihadiri unsur Forkopimcam Pandaan. Camat Pandaan, Kapolsek Pandaan, serta perwakilan Koramil turut mengikuti doa bersama. Selain itu hadir pula seniman dan budayawan dari Mojokerto, Kota Batu, Malang, Sidoarjo, hingga Surabaya.
Aksi budaya ini menjadi bentuk keprihatinan setelah Simpang Empat Patung Sapi kembali memakan korban.
Sebelumnya, Selasa (7/7), sebuah truk kontainer menabrak lima sepeda motor di persimpangan tersebut hingga menyebabkan empat orang meninggal dunia di lokasi kejadian.
Lokasi itu memang dikenal sebagai salah satu titik rawan kecelakaan di jalur Malang-Surabaya. Karakter jalan berupa turunan panjang dari arah Malang menuju Surabaya membuat kendaraan, khususnya truk, melaju dengan kecepatan tinggi sebelum bertemu APILL (traffic light) di Simpang Patung Sapi.
Kondisi tersebut kerap memicu kecelakaan ketika pengemudi terlambat mengerem atau sistem pengereman kendaraan tidak berfungsi optimal.
Sebelumnya, Kanit Kamsel Satlantas Polres Pasuruan Aipda Arifian mengungkapkan, berbagai upaya telah dikaji bersama instansi terkait untuk menekan angka kecelakaan di lokasi tersebut. Mulai dari wacana penutupan sebagian akses simpang, pengembangan sistem countdown timer pada lampu lalu lintas agar pengendara mengetahui lebih awal perubahan fase lampu, penataan dan pemangkasan pepohonan agar jarak pandang lebih baik, hingga peningkatan pengawasan terhadap kelayakan kendaraan angkutan barang, terutama kondisi sistem pengereman.
Melalui doa bersama dan ritual budaya tersebut, para seniman berharap tidak ada lagi korban jiwa akibat kecelakaan di Simpang Empat Patung Sapi yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu titik paling rawan di jalur nasional Pasuruan. (zen/fun)
Editor : Abdul Wahid