PANDAAN, Radar Bromo – Kecelakaan maut di Simpang Empat Patung Sapi, Desa Tawangrejo, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, bukanlah yang pertama. Sejumlah kecelakaan pernah terjadi di sana.
Dalam beberapa tahun terakhir, lokasi tersebut berkali-kali menjadi titik kecelakaan. Terutama kendaraan berat yang melaju dari arah Malang menuju Surabaya.
Hingga akhirnya, empat orang tewas dalam kecelakaan yang terjadi Selasa (7/7) di tempat itu.
Karakter jalan menjadi salah satu penyebab utama. Dari arah Malang, kendaraan melintasi turunan panjang.
Kemudian bertemu dengan Simpang Empat Patung Sapi yang dikendalikan Alat Pemberi Isyarat Lampu Lalu Lintas (APILL) atau dikenal dengan sebutan traffic light.
Saat lampu berubah merah, kendaraan harus mengurangi kecepatan atau berhenti dalam jarak yang relatif pendek.
Kondisi itulah yang kerap memicu kecelakaan, terutama ketika pengemudi terlambat mengerem atau sistem pengereman tidak bekerja optimal mendekati APILL di Simpang Empat Patung Sapi.
Kanit Kamsel Satlantas Polres Pasuruan Aipda Arifian mengatakan, sejumlah skema rekayasa lalu lintas sebenarnya sudah pernah dikaji bersama instansi terkait.
Salah satunya menutup akses jalan dari arah Tawangrejo dan Plumbon. Sehingga Patung Sapi tidak lagi menjadi persimpangan empat.
Dalam skema tersebut, kendaraan dari arah Tawangrejo diarahkan memutar melalui Dusun Bareng, Desa Sumberejo. Sementara arus dari Plumbon dialihkan menuju Simpang Empat Pandaan.
“Alternatif itu pernah kami kaji, bahkan pernah diterapkan sekitar tahun 2017. Tetapi skema ini dianggap kurang efektif. Saat itu muncul penolakan dari masyarakat karena mereka harus memutar cukup jauh,” ujarnya.
Karena itu, opsi penutupan simpang tidak lagi menjadi prioritas. Satlantas bersama Dinas Perhubungan kini lebih memilih untuk menyempurnakan fasilitas lalu lintas yang sudah ada.
Salah satu yang sedang dikaji ialah pengembangan sistem countdown timer atau penghitung waktu pada lampu lalu lintas.
Selama ini, pengguna jalan dari arah turunan baru mengetahui lampu berubah merah ketika mendekati persimpangan.
Ke depan, perubahan fase lampu diharapkan dapat diinformasikan lebih awal kepada pengendara tentang perubahan lampu.
Misalnya ketika arus dari Plumbon dan Tawangrejo masih hijau, pengguna jalan dari arah selatan sudah mendapat informasi bahwa beberapa detik lagi lampunya berubah hijau. Sebaliknya, pengendara dari arah utara juga tahu beberapa detik lagi akan merah.
“Dengan cara itu, mereka punya waktu mengurangi kecepatan sejak masih berada di turunan,” jelas Arifian.
Memang sepertinya sepele. Sebab, ada banyak APILL yang sudah dilengkapi dengan countdown timer.
Namun menurutnya, itu sangat krusial. Sebab, memberi ruang bagi pengendara untuk melakukan pengereman secara bertahap. Khususnya kendaraan berat.
Dengan begitu, risiko pengereman mendadak di dekat garis henti dapat dikurangi. Sehingga akhirnya juga mengurangi potensi kecelakaan.
Selain pembenahan APILL, Satlantas juga mengusulkan penataan ruang bebas di sisi jalan. Selama ini, banyak truk memilih lajur kanan saat menuruni jalan. Sebab, pandangan di lajur kiri sebagian tertutup pepohonan.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas PU terkait penataan atau pemangkasan pohon agar jarak pandang pengemudi lebih baik. Terutama di lajur kiri,” kata Fian.
Evaluasi juga menyasar kondisi kendaraan angkutan barang. Satlantas terus melakukan pendekatan kepada perusahaan angkutan maupun pengelola parkir truk agar rutin memeriksa kelayakan armada. Terutama sistem pengereman sebelum kendaraan beroperasi.
“Kami terus mengingatkan pengusaha angkutan agar memastikan kendaraan yang beroperasi benar-benar laik jalan. Rem harus dipastikan berfungsi baik karena jalur ini memang memiliki karakteristik turunan panjang,” tegasnya.
Sebelumnya diberitakan, kecelakaan maut terjadi di jalan nasional simpang empat Patung Sapi, Tawangrejo, Kecamatan Pandaan, Selasa pagi (7/7). Sebuah truk kontainer menyapu lima sepeda motor. Empat korban meninggal seketika di lokasi kecelakaan. (tom/hn)
Editor : Muhammad Fahmi