PANDAAN, Radar Bromo – Museum Cunggrang yang berlokasi di Kelurahan Petungasri, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, terus menunjukkan eksistensinya sebagai pusat edukasi sejarah di Kabupaten Pasuruan.
Memasuki tahun ketujuh sejak resmi beroperasi pada 2019, satu-satunya museum milik Pemerintah Kabupaten Pasuruan ini, mencatatkan tren kunjungan yang stabil dengan rata-rata ratusan pengunjung setiap bulannya.
Koordinator Museum Cunggrang, Anang Hindarto, mengungkapkan dalam lima bulan pertama tahun ini, jumlah pelancong yang datang, telah menembus angka sekitar 2.000 orang.
Angka ini diproyeksikan terus tumbuh positif, dibanding sepanjang tahun lalu yang mencatatkan total 3.000 kunjungan.
"Pengunjung di museum ini stabil, setiap bulannya berjumlah hingga ratusan orang. Mayoritas berasal dari kalangan pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum," jelas Anang.
Daya tarik museum ini, tidak hanya memikat warga lokal Pasuruan. Wisatawan luar daerah seperti Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, hingga Jember kerap menjadikan tempat ini, sebagai jujukan utama.
Bahkan, museum ini juga sempat menarik perhatian pelancong luar pulau seperti dari Bengkulu dan Kalimantan.
Baca Juga: Pengunjung Museum Cunggrang di Pasuruan Trennya Meningkat, Tiga Bulan Belakangan Catat Sampai Segini
Menurut Anang, selain kunjungan terencana, letak geografis museum yang strategis juga memberi keuntungan tersendiri.
Keberadaan Pasar Wisata Cheng Hoo yang berada dekat dengan lokasi, turut memberikan dampak positif terhadap arus masuk wisatawan.
Meski kunjungan terus mengalir, koleksi benda bersejarah di dalam museum tercatat belum mengalami penambahan.
Saat ini, Museum Cunggrang merawat 315 benda cagar budaya yang meliputi arca, lingga dan yoni, fragmen candi, replika sejarah, gerabah, keramik kuno, hingga senjata tradisional seperti keris.
Bagi masyarakat yang tertarik mengamati langsung jejak purbakala ini, Museum Cunggrang membuka operasionalnya setiap hari Senin hingga Jumat mulai pukul 08.00 sampai 15.00. Akses masuk ke museum ini sama sekali tidak dipungut biaya alias gratis. (zal/one)
Baca Juga: Kembangkan Museum Probolinggo, Pusat Kucuri Bantuan Rp 2,3 M
Editor : Moch Vikry Romadhoni