PASAR Wisata Cheng Hoo Kelurahan Petungasri, Kecamatan Pandaan, digadang-gadang menjadi ikon Kabupaten Pasuruan, khususnya di wilayah barat. Namun, kini kondisinya butuh direvitalisasi.
Lokasi Pasar Wisata Cheng Hoo, sangat strategis. Berada di pusat kota Kecamatan Pandaan. Terhubung langsung dengan jalan nasional ruas Surabaya-Malang.
Pasar yang dibangun dengan biaya dari APBD Pemkab Pasuruan pada 2013, ini juga hanya berjarak sekitar 1,5 kilometer dengan gerbang Tol Pandaan.
Fasilitasnya cukup lengkap. Di antaranya, deretan kios oleh-oleh, buah-buahan, makanan dan minuman, serta suvenir atau cinderamata. Parkirnya luas. Baik untuk sepeda motor, mobil pribadi, maupun bus.
Pasar ini sempat dilirik Pemerintah Pusat. Nyaris direvitalisasi. Pada 2024, Pemerintah Pusat melalui Kemendag RI menggelontor anggaran sekitar Rp 60 miliar.
Peletakan batu pertama sudah dilakukan oleh Menteri Perdagangan RI kalau itu, Zulkifli Hasan. Namun, pembangunannya urung dilakukan karena gagal tender.
Kini, Pemkab Pasuruan kembali berencana merevitalisasi Pasar Wisata Cheng Hoo. Karena butuh anggaran besar, Pemkab mengajukan anggaran ke Pemerintah Pusat melalui Kemendag RI.
“Revitalisasi diperlukan karena potensinya luar biasa. Baik dari segi ekonomi maupun wisata. Bagi Pemkab memiliki potensi ekonomi, wisata, dan PAD (pendapatan asli daerah). Sedangkan, pedagang pendapatannya akan meningkat," ujar Kepala Diskoperindag Kabupaten Pasuruan, Taufikhul Ghony.
Menurutnya, ada beberapa titik yang perlu dibenahi. Terutama kios-kios pedagang. Termasuk penataan parkir, akses jalan pengunjung, dan sejumlah titik lainnya.
Bersamaan dengan pengajuan anggaran ke Pemerintah Pusat, Detail Engineering Design (DED) sudah disiapkan. Dibuat pada 2025 dengan anggaran sekitar Rp 700 juta.
“DED sudah siap. Untuk revitalisasi butuh anggaran sekitar Rp 66 miliar. Proposalnya sudah kami ajukan ke Pemerintah Pusat melalui Kemendag RI. Kini masih menunggu," ungkapnya.
Dana puluhan miliar itu akan diigunakan untuk keperluan pembangunan fisik dan konsultan pengawas. Namun, kata Taufik, berapa pun anggaran yang didapat dari Pemerintah Pusat, akan digunakan untuk menggarap yang menjadi prioritas. “Kalau lengkap sesuai DED, minimal butuh anggaran sekitar Rp 66 miliar," ujarnya.
Jika Pemerintah Pusat enggan membantu, Taufik mengaku, akan mengupayakan menggunakan APBD. Namun, akan digarap secara bertahap menyeusuaikan kemampuan anggaran. Proyeknya akan digarap secara multiyears atau tanpa batasan tahun.
Soal penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT), kata Taufik, tidak bisa dialokasikan untuk revitalisasi pasar wisata ini. Terkendala aturan.
Terpisah, Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo mengatakan, sudah saatnya Pasar Wisata Cheng Hoo direvitalisasi. Apalagi jumlah pengunjung semakin ramai dari tahun ke tahun. Ke depan, Pandaan selain sebagai kota industri, juga akan menjadi kota jasa dan wisata.
“Diperlukan untuk menarik wisatawan dan transit, biar tidak jenuh dan ada perubahan,” ujarnya.
Rencana revitalisasinya sudah dikonsep. Rencananya, arsitektur dan ornamen tionghoanya lebih kental. Juga terintegrasi dengan museum dan masjid. Keduanya juga dilakukan penataan bersamaan dengan revitalisasi pasar wisata ini.
“Nanti menjadi wisata religi yang terintegrasi. Pengunjungnya tidak hanya menengah ke bawah, juga sampai menengah ke atas," ujar Mas Rusdi.
Salah satu konsep baru untuk revitalisasinya, selain penataan kios dan lahan parkir, nantinya akan dibangun sejumlah taman, menara pagoda, sekaligus untuk menara pandang dan penggeras suara masjid.
Menjadi Ikon Daerah-Pusat Perekonomian
Pasar Wisata Cheng Hoo menjelma menjadi pusat perekonomian baru sekaligus tempat wisata. Di dalamnya terdapat pasar produk UMKM, aneka kuliner makanan dan minuman.
Lokasinya yang berdekatan dengan Masjid Muhammad Cheng Hoo dan Museum Cunggrang, membuat pasar ini kian ramai.
“Masjid Muhammad Cheng Hoo dulu, beberapa tahun kemudian dibangunlah pasar wisata ini. Pasar wisata ini menjadi pusat perekonomian, khususnya perdagangan sekaligus juga wisata," ujar Kepala UPT Pengelolaan Pasar Diskoperindag Kabupaten Pasuruan, Iwan Setiawan.
Tercatat ada 90 pedagang yang berjualan di kios, namun dua kios sering tutup. Dari puluhan kios itu, terdapat berbagai macam dagangan. Sejumlah 20 kios berjualan buah-buahan dan oleh-oleh produk UMKM, sedangkan 52 kios menyediakan aneka makanan dan minuman atau kuliner. Sejumlah 18 kios lainnya berjualan suvenir atau cinderamata.
“Di pasar wisata ini yang paling sering dikunjungi wisatawan kios oleh-oleh dan buah-buahan. Juga makanan dan minuman," bebernya.
Di luar kios, juga terdapat puluhan pedagang kaki lima (PKL). Mereka menempati sekitaran lahan parkir. Mereka berjualan aneka minuman dan makanan. “PKL ada 64 orang. Mereka tidak dipungut biaya. Kalau pedagang yang menempati kios, ada biaya sewa yang dibayarkan setiap tahun sesuai Perbup,” ungkapnya.
Mayoritas pedagang berasal dari Kecamatan Pandaan. Ada juga yang dari Kecamatan Wonorejo, Prigen, Gempol, Purwodadi, Purwosari, dan Kecamatan Lumbang.
Iwan mengatakan, pasar ini layak disebut pusat perekonomian dan wisata, karena setiap harinya ramai pengunjung dan wisatawan. Terutama dari Kota Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Lamongan, Tuban, Bojonegoro, dan Madura. Pasar ini beroperasi mulai pagi sampai malam, namun biasanya pengunjung ramai berdatangan ketika sore sampai malam.
“Setelah pulang dari berwisata ke tempat wisata di sekitaran Pandaan, Prigen, Trawas, Sukorejo, dan Purwosari, bahkan dari Batu dan Malang, pulangnya mampir ke pasar wisata ini," katanya.
Ketika weekday, pengunjung tidak menentu. Namun, ketika weekend dan masa liburan, dipastikan selalu ramai. “Paling ramai Sabtu dan Minggu, juga ketika liburan. Kalau hari-hari biasa ada, tapi tidak seramai weekend dan liburan,” ujar salah seorang pedagang buah-buahan dan oleh-oleh produk UMKM, Soni.
Semakin tahun, kata Soni, pengunjung Pasar Wisata Cheng Hoo, makin ramai. Wisatawan sepulang berwisata dari Malang Raya termasuk Kota Batu, lebih memilih mampir dan berbelanja di Pasar Wisata Cheng Hoo. “Dulu dari Malang dan Batu, transitnya di Pasar Lawang. Sekarang langsung ke sini. Karena lengkap, aksesnya dekat dengan tol dan lahan parkirnya lumayan luas," ungkapnya.
Ramainya pengunjung tentu berdampak positif terhadap pendapatan pedagang. Dari berjualan buah-buahan dan oleh-oleh berupa produk UMKM, Soni mengaku, rata-rata per hari bisa mengantongi Rp 2-3 juta dari kiosnya. “Itu pendapatan kotor dari pagi sampai malam," katanya.
Salah seorang pengunjung Pasar Wisata Cheng Hoo Endang, 45, mengaku sering datang dan berbelanja di pasar wisata ini. Menurutnya, tempatnya enak dan dekat dengan jalan raya.
“Lahan parkirnya juga memadai. Setiap pulang wisata maupun jalan-jalan di sekitaran Pandaan dan Prigen serta Malang, mampir dulu ke sini. Menikmati kuliner serta beli oleh-oleh,” ujar warga Kota Surabaya ini.
Pedagang Tunggu Revitalisasi
Rencana revitalisasi Pasar Wisata Cheng Hoo, mendapat dukungan dari banyak pihak. Mengingat, bangunan yang ada sudah berusia lebih dari 10 tahun. Beberapa titik terlihat terdapat kerusakan, cat bangunan juga mulai kusam.
“Sebagai pedagang, kami mendukung rencana pemerintah daerah merevitalisasi Pasar Wisata Cheng Hoo. Karena sudah saatnya dilakukan," ujar salah seorang pedagang, Soni.
Jika revitalisasi terealisasi, pihaknya berharap tidak ada tambahan kios. Jalur dan akses masuk dan keluar pengunjung dikembalikan seperti semula.
“Karena yang sekarang memutar, kasihan pengunjung yang tua dan pakai kursi roda. Lebih baik dikembalikan seperti awal saja," katanya.
Dukungan revitalisasi pasar wisata ini juga datang dari Ketua Takmir Masjid Muhammad Cheng Hoo, Kiai Mushollin. Apalagi, ke depan terintegrasi pasar wisata dengan masjid.
Menurutnya, pengunjung ada yang lebih dulu tiba di masjid lalu ke pasar wisata, ada yang sebaliknya. “Pengunjung masjid ramai, pasar wisatanya juga ramai, begitu sebaliknya," ujarnya.
Museum Cunggrang yang satu lokasi kawasan dengan Pasar Wisata Cheng Hoo, juga akan terdampak.Menginggat, pengunjung Museum Cunggrang, juga sebagian besar dari pengunjung Pasar Wisata Cheng Hoo.
“Revitalisasi yang dilakukan bertujuan untuk perbaikan dan penataan kompleks Cheng Hoo, yang lebih baik. Pasti museum juga akan memiliki dampak yang baik," ujar Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pasuruan, Ika Ratnawati. (zal/rud)
Editor : Fahreza Nuraga