PANDAAN, Radar Bromo – Suhu udara di wilayah Pasuruan dan Probolinggo, terasa dingin dalam sepekan terakhir. Terutama saat malam hari.
Fenomena ini, justru disebut-sebut imbas masa puncak musim kemarau.
Ketua Tim Layanan Data dan Informasi dari kantor Stasiun Geofisika Pasuruan, Suwarto, menuturkan fenomena ini, bukan karena dampak dari aphelion atau momen ketika bumi berada terjauh dari matahari.
Namun sebaliknya, justru karena sudah memasuki puncak musim kemarau.
"Aphelion itu tidak terlalu berdampak pada suhu dingin. Suhu dinginnnya, lebih karena sudah musim kemarau. Saat ini memasuki puncaknya yakni di bulan Juli hingga Agustus," bebernya.
Ia menambahkan, kondisi ini diperkirakan akan berlangsung hingga Agustus. Suhu rata-rata, mencapai 18 derajat celsius hingga 27,4 derajat celsius.
"Yang perlu diantisipasi masyarakat, adalah menjaga kesehatan. Salah satu caranya, dengan menggunakan jaket saat keluar rumah," sampainya.
Lebih jauh, Suwarto menguraikan, momen aphelion bisa terjadi setiap tahun.
Namun, untuk fenomena saat ini, lebih dikarenakan pengaruh dari kejadian di selatan khatulistiwa. Khususnya di Pulau Jawa.
"Itu karena udara kering yang dari Australia, monsun Australia sifatnya lebih kering. Kondisi ini menyebabkan suhu udara pada malam hari terasa lebih dingin. Sementara pada siang hari, panasnya tidak sepanas bulan-bulan lain," jelasnya. (zal/one)
Baca Juga: Suhu Dingin di Kota Probolinggo Bisa Capai 15 Derajat Celsius, Ini Penyebabnya
Editor : Moch Vikry Romadhoni