Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Istri yang Meninggal Korban KDRT di Pandaan Pasuruan Sudah Menikah Delapan Tahun dan Belum Punya Anak

Rizal Syatori • Sabtu, 10 Mei 2025 | 03:23 WIB
TKP: Kamar di rumah kontrakan, tempat jasad Yulina Kuslidiawati ditemukan. Inset, Sigit yang sudah diamankan dan Yulina semasa hidup.
TKP: Kamar di rumah kontrakan, tempat jasad Yulina Kuslidiawati ditemukan. Inset, Sigit yang sudah diamankan dan Yulina semasa hidup.

PANDAAN, Radar Bromo-Meninggalnya Yulina Kuslidiawati membuat gempar warga Pandaan karena diduga menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dilakukan Herlambang Sigit Prananto, suaminya sendiri.

Korban dan terduga pelaku, merupakan pasangan suami istri diketahui telah menikah sejak 2017 lalu.

Sigit dan Yulina menempati rumah kontrakan atau TKP, sejak 2019 lalu atau sudah dapat sekitar enam tahun terakhir.

“Selama menempati rumah kontrakan tersebut, pasutri ini terlihat akur dan baik-baik saja. Cuma sekitar sepekan lalu, korban pulang ke rumah orang tuanya di Lumbangrejo, Prigen. Infonya ada masalah. Terus balik lagi, dijemput suaminya supaya mau tinggal di rumah kontrakan ini,” kata Muji, 56, salah seorang warga sekitar.

Di kontrakan, selain pasutri ini, mereka juga serumah dengan anak kecil masih sekolah TK, yang merupakan adik korban. Sementara ayah korban, tidak ikut tinggal di rumah tersebut.

Melainkan menempati rumahnya sendiri di Niaga, Lingkungan Pesantren, Kelurahan/Kecamatan Pandaan.

“Rumahnya tingkat dua lantai. Pasutri ini bersama anak kecil masih TK (adik korban, red) tinggal di lantai atas. Di lantai bawah, ada ibu dan adik kandung sang suami. Jadi total di rumah tersebut ada lima orang setiap harinya,” beber Muji.

Jawa Pos Radar Bromo sempat menemui M. Suharto, 59, ayah kandung Sigit yang menjadi saksi kasus ini. 

Saat ditemui di Mapolsek Pandaan, Suharto mengaku, dia memutuskan datang dan melaporkan ke Polsek Pandaan setelah mendapat kabar dari Helmy, putranya, sekaligus adik dari terduga pelapor. Dia dilapori bahwa Yulina meninggal dunia.

“Yang tahu lebih dulu menantu saya ini meninggal putra saya A, 18, saat mengantarkan makanan ke rumah kontrakan bertemu Sigit sekaligus memberitahu istrinya telah meninggal. Itu sekitar pukul 10.00 pagi,” ungkapnya.

A yang mengetahui informasi tersebut, langsung keluar. Dia kemudian menghubungi ke Helmy, 31, kakaknya sekaligus adik kandung dari Sigit. 

“Lalu, Helmy yang berada di Pasuruan, bergegas ke Pandaan. Kemudian menemui saya dan memberi informasi tersebut, bertemu langsung di warung. Saya dan Helmy memutuskan datang ke Polsek Pandaan sekaligus laporan,” tuturnya.

Terkait kejadian ini, Suhar sapaan akrab Suharto mengaku kaget. Dia tidak menyangka, Sigit yang merupakan putra pertamanya, nekad berbuat seperti itu ke Yulina. “Makanya kami berdua putuskan laporan ke polsek,” bebernya.

Sigit, kata Suhar, selama ini berjualan tembakau di Pasar Senggol atau Pasar Lama Pandaan. “Juga dibantu istrinya atau korban selama ini,” ujarnya.

Lalu apa motif dalam kasus ini? Kapolsek Pandaan Kompol Bambang Sucahyono belum bisa menjawab. “Masih didalami untuk motifnya,” kata Kapolsek Pandaan singkat.

Seperti diberitakan sebelumnya, warga lingkungan Pesantren, Kelurahan/ Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, dibuat gempar, Jumat (siang (9/5) sekitar pukul 13.00.

Ini setelah Herlambang Sigit Prananto, 34, menganiaya hingga sang istri meregang nyawa. (zal/fun)

Editor : Fandi Armanto
#suami aniaya istri #pasuruan #kdrt #Pandaan #ranjang