SURABAYA, Radar Bromo- Pemprov Jatim bersama Tim Geologi Institut Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menuntaskan kajian terhadap bencana tanah bergerak di Desa Cowek, Purwodadi, Kabupaten Pasuruan.
Dari hasil kajian itu, warga diminta untuk pindah karena wilayah itu dinilai tak aman.
Mengacu informasi dari Tim Geologi ITS, fenomena gerakan tanah yang terjadi di Kabupaten Pasuruan ini dipengaruhi oleh sejumlah hal. Antara lain, kelerengan, kekuatan tanah, dan kandungan air.
Adanya kandungan air yang tinggi akan semakin meningkatkan tekanan dalam tanah dan memicu pergerakan. Hal itu sangat berbahaya, terutama bila terjadi curah hujan tinggi.
Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto menjelaskan, saat ini instansinya masih menunggu hasil kajian secara tertulis dari tim. Dan Pemprov Jatim menurutnya, akan mematuhi rekomendasi dari hasil uji tersebut.
“Kami akan mengikuti rekomendasi. Soal opsi relokasi, memang sempat dibahas,” kata Gatot.
Dia menambahan, saat ini sudah ada lahan yang disasar untuk tempat relokasi warga.
Namun, izin penggunaannya belum diurus. Karena itu, Pemprov Jatim akan berkoordinasi untuk pemanfaatan lahan tersebut.
Gatot memastikan, bencana tanah gerak itu jadi atensi pemerintah. Pemprov sudah mengirim bantuan.
Saat ini, juga ada personel yang berjaga di lokasi pengungsian di SDN Cowek II.
Fenomena tanah gerak ini mulai dirasakan warga di Dusun Sempu RT 01/RW 08, Desa Cowek, sejak Selasa (28/1) dan masih terus berlanjut. Hal ini menyebabkan 53 bangunan retak-retak dan rusak berat. Terdiri atas 52 rumah dan satu musala.
Sebanyak 47 kepala keluarga dengan total 176 orang diungsikan di SDN Cowek dan menempati tiga ruangan. Termasuk di antaranya ada 32 anak-anak dan balita, 12 lansia, dan satu ibu hamil.
Sementara itu, Kalaksa BPBD Kabupaten Pasuruan Sugeng Hariyadi menegaskan, pihaknya sudah menerima rekomendasi hasil kajian dari Pemprov Jatim. Menurutnya, isi rekomendasi dari Pemprov Jatim ada beberapa poin.
Di antaranya, status tanah gerak menjadi siaga longsor. Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan aktifitas di sekitar lokasi tanah gerak. Sebab, dikhawatirkan ada gerakan tanah yang meluas.
“Juga direkomendasikan agar ada perbaikan drainase dan penanaman vegetasi keras untuk menahan air dan pergerakan tanah,” terangnya.
Namun, hasil kajian dari pakar atau tim ahli sampai saat ini belum turun.
“Bila sudah turun semua, hasil rekomendasi dari kedua pihak itu akan kami bahas di tingkat daerah dengan melibatkan instansi terkait,” terangnya. (hen/zal/hn)
Editor : Muhammad Fahmi