Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cerita Pendaki Sekeluarga asal Malang Terjebak Badai di Gunung Penanggungan

Muhammad Fahmi • Minggu, 2 Februari 2025 | 05:27 WIB

 

Kawasan Gunung Penanggungan saat dipotret dari Dusun Sumberpiji, Desa Sumberkembar, Pacet, Mojokerto, Selasa (28/1). (Famy Decta for Radar Bromo)
Kawasan Gunung Penanggungan saat dipotret dari Dusun Sumberpiji, Desa Sumberkembar, Pacet, Mojokerto, Selasa (28/1). (Famy Decta for Radar Bromo)

MOJOKERTO, Radar Bromo-Lima pendaki Gunung Penanggungan yang masih sekeluarga ini mengalami momen menegangkan. Mereka terjebak badai dan angin kencang saat mendaki.

Beruntung, rombongan pendaki sekeluarga asal Malang ini berhasil dievakuasi tim penyelamat setelah satu malam berlindung di Gua Botol.

Anggota SAR Penanggungan Fatkur menceritakan, awalnya kelima pendaki itu naik ke Gunung Penanggungan lewat jalur pendakian Desa Kedungudi, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto pada Rabu (29/1) pagi.

Mereka meliputi tiga pendaki laki-laki dan dua perempuan. Yakni atas nama Boyadi, Didik, Yuyun, Lintang, dan Ardhien.

Nah, belum juga sampai puncak, rombongan pendaki ini dihadang badai dan angin kencang.

Cuaca ekstrem membuat rombongan ini urung sampai puncak. Hujan disertai angin kencang dan kabut tebal melanda lereng gunung setinggi 1.653 meter tersebut.

Karena tak memungkinkan untuk melanjutkan pendakian, kelimanya memutuskan berlindung di Gua Botol yang berjarak sekitar 500 meter dari puncak Penanggungan.

“Karena badai mereka tidak bisa turun akhirnya dikirim logistik oleh teman-teman perizinan pos Kedungudi,” jelas Fatkur kepada Jawa Pos Radar Mojokerto, Jumat (31/1).

Setelah terjebak selama sehari semalam, kelima pendaki itu akhirnya dibantu turun pada Kamis (30/1) sekitar pukul 21.00.

Fatkur menyebut para pendaki dikawal turun via jalur Jolotundo.  Sekira pukul 24.00, mereka tiba di Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto.

Setelah beristirahat, Jumat (31/1) dini hari pukul 03.00, mereka akhirnya sampai di posko pendakian Kedungudi.

Baca Juga: Ki Ageng Penanggungan, Waliyullah, Kiai dan Habib pun Banyak yang Berziarah

“Sekarang mereka sudah balik ke Malang dan kondisinya sehat semua,’’ imbuh sukarelawan dari kelompok Galena Rescue itu.

Fatkur menyatakan, kelimanya merupakan pendaki terakhir yang berada di kawasan Penanggungan sebelum seluruh jalur pendakian ditutup mulai Kamis (30/1) pagi.

Penutupan dilakukan karena cuaca ekstrem. Saat itu juga sedianya mereka dijadwalkan sudah turun.

“Kamis itu sudah harus steril, tidak ada pendaki. Tapi karena ada badai itu mereka mungkin takut turun,’’ tandasnya.

Pengurus LMDH Seloliman yang mengelola jalur pendakian Jolotundo mengatakan, laporan pendaki terjebak badai diterima pihaknya.

Laporan pada Kamis sore itu berasal dari keluarga pendaki di Malang yang menginformasikan kalau kelimanya belum ada kabar sejak naik pada Rabu.

’’Kami kroscek ke jalur pendakian lain karena tidak tahu naiknya lewat mana, ternyata di Kedungudi dan mobilnya juga ada di sana,’’ jelasnya.

Setelah itu terdapat kabar yang diterima keluarga jika kelimanya berlindung di Gua Botol. Informasi itu kemudian menjadi bekal tim penyelematan melakukan evakuasi.

“Di Gua Botol ini masih ada sinyal, jadi bisa kontakan. Posisi Gua Botol juga bisa diakses lewat Jolotundo dan Kedungudi,’’ tandas Suwarno. (adi/fen/RadarMojokerto)

Editor : Muhammad Fahmi
#sar #gunung penanggungan #trawas #badai #pendaki #jalur pendakian #mojokerto #malang #Ngoro #cuaca ekstrem #angin kencang