SUKOREJO, Radar Bromo - Tidak butuh waktu lama. Petugas Polsek Sukorejo menemukan penyebab kebakaran di pusat oleh-oleh pabrik Wisata Tas Rajut Kaboki.
Lokasi wisata yang ada di Jalan Raya Sukorejo-Bangil, Dusun Kesiman, Desa Lecari, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan itu diduga dibakar.
Sebelumnya, memang ada kecurigaan bahwa kebakaran itu disengaja. Lebih-lebih, seluruh area pabrik yang memproduksi tas rajut itu ludes, hanya menyisakan bangunan musala dan pos sekuriti.
Saat kebakaran terjadi, hanya ada Soehartono, 50, sekuriti di tempat itu. Warga Dusun Glatik, Desa Glagahsari, Kecamatan Sukorejo itu bertugas semalaman sejak Jumat (17/5) sore.
Kecurigaan kemudian mengarah ke Soehartono, beberapa saat setelah pabrik terbakar.
Saiful, salah seorang karyawan yang setiap hari memarkir mobilnya di pabrik, tiba-tiba didatangi tetangganya bernama Hariyanto.
Saat itu Hariyanto menyampaikan pesan dari Soehartono agar Saiful segera mengeluarkan mobil Toyota Avanza dari area pabrik.
”Saya masih di rumah waktu itu. Bingung juga kenapa tiba-tiba disuruh mengeluarkan mobil saya,” kata Saiful.
Tanpa pikir panjang, Saiful menurut saja. Ia datang ke pabrik untuk mengeluarkan mobilnya. Saiful pun semakin bingung setelah melihat situasi pabrik.
Semua pintu dalam keadaan terbuka. Begitu juga mobil Mitsubishi Kuda dan Nissan Serena yang terparkir di lorong antara gudang benang. Seluruh pintunya terbuka.
”Saya sempat mengira kalau Pak Har menyuruh orang untuk menghabiskan barang-barang pabrik,” katanya.
Kecurigaannya itu muncul mengingat sehari sebelumnya, pihak manajemen memang mengumpulkan tiga sekuriti Kaboki. Termasuk Soehartono. Manajemen menyampaikan akan ada pemutusan hubungan kerja (PHK) pengurangan sekuriti.
”Memang kami informasikan rencana pengurangan sekuriti Jumat paginya,” kata Marini, Manajer HRD Wisata Tas Rajut Kaboki.
Kebijakan itu sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Karena lini bisnis PT. Velesia dalam beberapa tahun sudah tak semoncer dulu.
Bahkan sebelumnya, pihak manajemen juga memberlakukan pengurangan jam kerja terhadap karyawan produksi.
”Untuk produksi malah lebih dulu dilakukan efisiensi. Semula hari kerja efektif lima hari menjadi tiga hari. Dan itu sudah berjalan,” imbuh Marini.
Sedangkan efisiensi tenaga sekuriti sendiri, menurut Marini, baru rencana. Pihaknya belum mengambil keputusan apapun.
Karena masih menunggu arahan pemilik usaha Kaboki yang rencananya datang awal pekan depan.
”Jadi kami hanya sampaikan untuk siap-siap. Saya nggak sebut nama. Selain itu, pengurangan itu bisa terjadi, bisa batal, tergantung keputusan bos nanti,” kata Marini.
Tampaknya, pemberitahuan mengenai rencana efisiensi tenaga sekuriti itu membuat Soehartono tak berpikir panjang.
Lelaki yang sudah menjadi sekuriti selama 17 tahun di Kaboki itu kalut, takut diberhentikan.
Di tengah kekalutannya, ia merencanakan pembakaran pabrik yang beroperasi sejak 2007 silam.
Dugaan Saiful yang mengira Soehartono menyuruh orang untuk menguras barang berharga milik pabrik ternyata keliru.
”Saat mengeluarkan mobil sempat saya tanya, ada apa Pak Har? Malah dijawab, cepat keluarkan mobilmu. Saya nggak ada urusan dengan kamu,” kata Saiful menirukan ucapan Soehartono.
Saiful bergegas membawa pulang mobilnya ke rumah yang tidak jauh dari pabrik. Dan begitu sampai di rumah, ia mendengar pabrik Kaboki kebakaran hebat.
Barulah saat itu Saiful menerka bahwa insiden itu ada kaitannya dengan Soehartono, rekannya.
Ketika seisi pabrik terbakar, Soehartono sendiri panik. Ia mencegat ojek di tepi jalan dan meminta diantar ke Mapolsek Sukorejo. Di sana, ia mengakui semua perbuatannya.
Soehartono sendiri, terbersit melancarkan aksinya membakar pabrik setelah mendengar rencana pengurangan sekuriti. (tom/hn)
Editor : Muhammad Fahmi