PANDAAN, Radar Bromo - Sejumlah warga berbondong-bondong mendatangi Dusun Binangun, Desa Plintahan, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan. Minggu (1/10) pagi, di dusun ini digelar pasar dadakan. Namanya, Pasar Pring Sewu.
Sesuai namanya, lahan tempat transaksi ini rimbun dengan rumpun bambu. Begitu asri. Pepohonan lainnya juga tumbuh subur. “Ini pasar rakyat tradisional. Sekaligus sebagai destinasi wisata budaya di desa kami. Pertama kalinya digelar pada awal bulan ini. Ke depan akan digelar dua pekan sekali,” ujar Kepala Desa Plintahan Danan Jaya.
Berada di area pasar ini, serasa ada di masa tempo dulu. Makanan dan jajanan yang dijual merupakan jajanan tradisional. Seperti lupis, cenil, horok-horok, sawut, pecel, polo pendem, dan beragam makanan tradisional lainnya.
Selain itu, juga ada mainan tradisional. Seperti, egran, kekean, dan kapal-kapalan. Ada juga kegiatan memberi makanan kelinci dan kambing bagi anak-anak.
Keunikan lainnya, semua lapak merupakan UMKM dari warga setempat. Semuanya terbuat dari bambu. Pedagang yang berjualan, semuanya berbusana zaman dulu atau tempo dulu.
“Setelah beli makanan dan minuman tradisional, pengunjung duduk di atas tikar dan kursi bambu yang sudah tersedia di lokasi. Sekaligus dihibur campur sari,” tuturnya.
Dalam bertransaksi membeli makanan dan minuman, pengunjung harus menukar duitnya dulu dengan uang koin dari bambu. Karena dalam proses transaksi, tidak menggunakan uang rupiah. Melainkan uang koin dari bambu yang disiapkan panitia.
“Proses transaksinya pakai cara-cara zaman dulu tetap dipertahankan. Ini menjadi ciri khas pasar ini,” bebernya.
Pasar Pring Sewu ini dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Plintahan. Bekerja sama dengan mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Sidoarjo.
“Pasar Pring Sewu ini ke depan diharapkan juga sebagai kegiatan budaya. Juga pendukung pariwisata di desa ini. Karena lokasinya dekat dengan Coban Binangun,” ungkapnya.
Fihas, 34, salah seorang pengunjung asal Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, mengatakan, Pasar Pring Sewu, secara umum apik. Bila dikelola dengan baik, akan menjadi destinasi wisata budaya baru di Kecamatan Pandaan.
Konsep di dalamnya tidak jauh seperti Papringan di Temanggung, Jawa Tengah dan Pasar Keramat, Pacet, Kabupaten Mojokerto. “Karena ini tren, memang untuk saat ini, dalam pembukaan awal, cukup ramai pengunjung. Dagangan yang dijual laris. Tinggal pengelolaannya saja harus lebih baik lagi,” ujarnya. (zal/rud)
Editor : Jawanto Arifin