Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Satwa Bertahan di Hutan selama Karhutla di Gunung Arjuno

Rizal Syatori • Rabu, 13 September 2023 | 16:00 WIB

 

MATI TERPANGGANG: Tubuh anak rusa ditemukan terpanggang oleh relawan, saat kejadian karhutla pekan lalu di Desa Claket, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto.
MATI TERPANGGANG: Tubuh anak rusa ditemukan terpanggang oleh relawan, saat kejadian karhutla pekan lalu di Desa Claket, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto.
 

PURWODADI, Radar Bromo – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Gunung Arjuno yang telah berlangsung lebih dari dua pekan, menimbulkan kerusakan alam. Api yang membakar lahan di tiga daerah (Kabupaten Malang, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Mojokerto), membuat satwa liar di hutan jadi korban. Sampai saat ini satwa-satwa itu tetap bertahan di hutan.

“Pantauan dan pengamatan kami dilapangan, satwa liarnya belum turun dan masuk ke perkampungan atau permukiman warga. Sebaliknya, masih masih ada di hutan semua,” terang Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur Nur Patria Kurniawan saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo di Purwodadi.

Untuk satwa liar yang ada di Gunung Arjuno, Ringgit dan Welirang (kawasan Tahura R. Soerjo),  dan potensi yang ada di dalamnya beragam. Mulai aneka burung seperti elang Jawa, macan tutul, babi hutan, rusa, kera ekor panjang, landak serta masih banyak lainnya.

“Saat ada kebakaran, satwa liar tersebut tidak langsung turun. Melainkan berpindah ke hutan lain di sekitarnya yang lebih aman,” tuturnya.

Dari empat daerah tersebut, potensi keberadaan satwa liar, paling banyak berada di Kabupaten Mojokerto. “Karena di Kabupaten Mojokerto, hutannya jauh lebih lebat. Jadi satwa liarnya lebih banyak, ketimbang tiga daerah lainnya,” ucap Kurniawan.

Adapun temuan satwa liar yang tewas saat karhutla, terjadi secara masif. Terbaru, ada satu anak rusa tewas terpanggang yang ditemukan relawan saat naik gunung melakukan pemadaman api. Lokasinya di Desa Claket, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto.

“Saat ditemukan, posisi anak rusanya pada bagian perut dan dadanya robek. Sepertinya sebelum tewas terpanggang api, lebih dulu anak rusa tersebut tewas diterkam oleh binatang buas,” bebernya.

Di sisi lain, karhutla masih menjadi ancaman serius selama puncak kemarau. Sebab awal musim hujan diprediksi masih terjadi November mendatang.

Musim kemarau di tahun ini lebih panjang durasinya jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Bahkan juga lebih kering dan panas. Ini karena imbas dari adanya El Nino, berdampak di wilayah Indonesia. Termasuk Jawa Timur maupun Pasuruan dan Probolinggo.

“Cuaca seperti sekarang, karena ada dan pengaruh dari El Nino yang muncul mulai Agustus lalu. Sifatnya moderat berlangsung hingga Desember. Baru akan melemah Februari tahun depan,” ungkap staff BMKG Stasiun Geofisika Pasuruan Suwarto.

Adapun dampak tidak langsung dari adanya El Nino saat ini, kata Suwarto, sering kali terjadinya kebakaran. Terutama hutan dan lahan. Lalu, dampak langsungnya berupa suhu makin panas dan kekeringan.

“Pengaruh dari El Nino berdampak langsung dan tidak langsung. Termasuk berpengaruh pada pembentukan awan, sehingga intensitas hujan minim sekali,” tuturnya.

El Nino, lanjut Suwarto, adalah fenomena suhu laut pasifik di bagian tengah dan timur lebih tinggi. Ini menyebabkan perawanan di Indonesia termasuk Jatim, sulit terbentuk. “Jadi tetap harus diantisipasi dan harus ada atensi, karena selama El Nino berlangsung rawan kebakaran dan kekeringan,” ujarnya.

Dia memprediksi, cuaca masih masuk dalam puncak musim kemarau hingga Oktober. Sehingga upaya untuk membuat hujan buatan dalam penanganan karhutla, sulit dilakukan. “Awal musim hujannya, perkiraan masuk di awal November,” ucapnya singkat. (zal/fun)

Editor : Ronald Fernando
#karhutla arjuno #kebakaran arjuno