PRIGEN, Radar Bromo - Setelah sempat ditiadakan pada tahun 2021, selamatan Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, kembali digelar tahun ini. Sayang, kegiatan itu memakan korban. Seorang warga Kepanjen, Kabupaten Malang, meninggal akibat berdesakan saat berebut ancak, Minggu (30/7).
Persiapan acara itu dimulai pukul 09.00. Saat itu, masing-masing dusun di Desa Dayurejo bersiap mengusung ancak untuk selamatan. Tiap dusun menyiapkan dua hingga empat ancak.
Menjelang siang, satu per satu ancak diusung dari tiap dusun ke Balai Desa Dayurejo. Halaman dan pendapa balai desa pun dipenuhi ancak. Setelah ancam terkumpul semua, doa pun dibacakan sekitar pukul 10.30.
Saat itu, ribuan warga tumplek-blek di sekitar balai desa. Mereka berdiri di luar pagar balai desa, menunggu selamatan digelar. Begitu pembacaan doa selesai, warga merangsek masuk ke dalam untuk berebut ancak.
Mereka berdesakan, saling dorong. Termasuk Slamet, 69, warga Desa Panggungrejo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Dia bersama warga lainnya ikut berdesakan untuk berebut ancak.
Diduga sesak napas dan tidak kuat, Slamet tiba-tiba pingsan di tengah keramaian. Warga di sekitarnya pun langsung membopongnya. Tubuhnya dibawa ke balai desa setempat. Sayang, upaya itu tidak berhasil. Dia meninggal beberapa saat kemudian.
Korban sebenarnya tidak sendirian datang ke acara selamatan itu. Dia bertiga dengan cucu dan temannya.
“Posisi korban saat kejadian sudah berada di dalam balai desa, tepatnya di dekat pendapa. Korban ikut berebut ancak, lalu tiba-tiba pingsan. Oleh warga korban lantas dibopong ke dalam kantor. Namun, korban meninggal,” terang Kades Dayurejo Wahono.
Wahono menjelaskan, prosesi selamatan desa itu awalnya berjalan tertib. Banyak petugas keamanan dari Polsek dan Koramil Prigen. Selain itu, ada pula trantib dari Kantor Kecamatan Prigen, Linmas Desa Dayurejo, organisasi kepemudaan, dan lain-lain.
Namun, kemudian selamatan menjadi ricuh. Pemicunya, warga berdesakan masuk ke dalam balai desa. Menjelang akhir pembacaan doa selesai, warga makin tak terkendali. Mereka adu cepat untuk berebut ancak.
Memang biasanya, ancak itu boleh dijadikan rebutan setelah acara selesai. Tepatnya setelah pembacaan doa selesai. Tahun-tahun sebelumnya juga seperti itu. Namun, tidak pernah ada korban seperti saat ini.
“Ini di luar kendali kami dan panitia. Ternyata antusiasme masyarakat luar biasa. Tentunya kejadian seperti ini tidak kami inginkan bersama,” tuturnya.
Selain satu orang meninggal, kejadian ini juga mengakibatkan sejumlah kerusakan. Di antaranya, pagar besi akses masuk dan keluar Balai Desa Dayurejo rusak.
“Informasi yang kami dapat, korban tidak masuk lewat pagar depan. Tapi, dari samping balai desa sisi sebelah selatan,” ungkapnya.
Setelah korban dipastikan meninggal dunia, siang harinya sekitar pukul 12.00, jasadnya dibawa pulang ke rumah duka. Kades Dayurejo dan sejumlah perangkat desa setempat ikut mengantar ke rumah duka.
“Jasad korban langsung dibawa pulang oleh keluarganya,karena perwakilan keluarga korban yang datang ke Balai Desa Dayurejo menolak dilakukan visum. Mereka menerima kematian korban,” kata Kapolsek Prigen AKP Sugiyanto.
Pihak keluarga korban juga membuat surat pernyataan bermaterai yang isinya menolak visum. “Informasi dari pihak keluarga, korban selama ini memiliki riwayat sakit asma,” ungkapnya. (zal/hn)
Editor : Jawanto Arifin