Stunting sendiri merupakan gangguan tumbuh kembang anak. Disebabkan kekurangan asupan gizi, terserang infeksi, maupun stimulasi yang tak memadai.
Stunting dapat disebabkan diantaranya oleh rendahnya asupan gizi sejak janin, hingga bayi umur 2 tahun, tidak terjaganya kebersihan lingkungan serta buruknya fasilitas sanitasi dan akses air bersih.
Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan. Meliputi tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau. Berbeda dengan air minum yang harus melalui proses pengolahan terlebih dahulu dengan cara dididihkan atau direbus.
Di wilayah kerja Puskesmas Sebani, Pandaan, terdapat sumber air permukaan. Meliputi sumber mata air dari alam ataupun sumur bor. Serta adanya kepercayaan masyarakat yang menganggap sumber mata air sebagai warisan nenek moyang dengan berbagai manfaatnya.
Hal tersebut menyebabkan masyarakat mengkonsumsi air langsung dari sumber mata air. Studi Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT) tahun 2020 menunjukkan bahwa akses kualitas air minum aman hanya sebesar 11,9 persen dan 40,8 persen.
Masyarakat menggunakan air minum bersumber dari air tanah. Selain itu, sebanyak 14,8 persen rumah tangga di Indonesia menggunakan sumur gali untuk keperluan minum dengan tingkat risiko cemaran tinggi.
Pada awal tahun 2023 hingga bulan Mei, tim Puskesmas Sebani telah melakukan tinjauan lapangan dan pemeriksaan air minum pada bayi/balita stunting. Dari 50 sampling air yang diambil, ditemukan bahwa 41 sampling air positif mengandung bakteri E.coli.
Setelah dilakukan penelurusan lapangan ditemukan perilaku keluarga yang tidak melakukan pengolahan air sebelum dikonsumsi. Jika anak bayi/balita mengkonsumsi air minum yang mengandung E.coli, berakibat pada terganggunya sistem percernaan anak, anak mudah jatuh sakit diare.
Diare berkepanjangan akan menjadi diare kronik dan menganggu tumbuh kembang anak karena penyerapan nutrisi yang tidak maksimal. Merebus air dapat membunuh mikroorganisme seperti bakteri, virus atau protozoa penyebab penyakit sehingga air aman dikonsumsi.
Dalam upaya penanganan stunting, Puskesmas Sebani melakukan kegiatan inovasi berbasis kesehatan lingkungan. Khususnya akses terhadap air minum sehat melalui Gerakan Minum Air Sehat Cegah Stunting (GEMAS CETING).
Inovasi Gema Ceting meliputi kegiatan identifikasi sumber mata air yang digunakan, pemeriksaan kualitas sampel air, penyuluhan hingga demo masak air yang benar. Hal ini sebagai tindak lanjut surveilans kualitas air minum rumah tangga yang telah dilakukan untuk meminimalisir kejadian penyakit berbasis lingkungan.
“Kami berharap masyarakat mempunyai akses terhadap air minum yang layak dan aman. Kualitas air minum yang buruk berkaitan dengan peningkatan stunting pada balita. Hal ini terjadi karena mikroorganisme pathogen yang masih hidup di dalam air bersih dapat menyebabkan anak mengalami penyakit diare. Jaga dan sediakan akses air minum yang berkualitas untuk seluruh anggota keluarga kita,” pesan dr. Sri Setyojayanti, Kepala UOBF Puskesmas Sebani. (unt) Editor : Jawanto Arifin