Kades Karangsono M. Alim mengatakan, selama dirinya menjabat kepala desa, ada tiga kejadian serupa di lokasi yang sama. Yaitu, di jalur rel kereta api Dusun/Desa Karangsono, Kecamatan Sukorejo.
Kondisi tiga korban pun sama. Mereka berjalan kaki sendiri menyusuri rel kereta api. Kemudian tertabrak kereta dan tewas. “Selama saya jadi kepala desa, seingat saya sudah ada tiga kejadian serupa. Sama, korban diduga bunuh diri,” tuturnya.
EWS menurutnya adalah korban ketiga. Korban pertama adalah perempuan dewasa asal Desa Tejowangi, Kecamatan Purwosari. Dia juga diduga bunuh diri. Dan satu lagi laki-laki, warga Kecamatan Sukorejo.
https://radarbromo.jawapos.com/daerah/pandaan/12/01/2023/jalan-di-rel-siswi-tewas-tertabrak-ka-di-sukorejo-diduga-bunuh-diri/
“Posisi TKP ini relnya memang menikung atau tikungan. Juga agak jauh dari rumah warga. Jadi saat ada kereta api melintas, memang tidak terlihat,” ungkapnya.
Namun, TKP tempat kecelakaan itu bukan jalur perlintasan sebidang. Di sana tidak ada akses untuk pejalan kaki atau kendaraan. Juga tidak ada tempat perlintasan atau tempat menyeberang.
Jarak TKP dari perlintasan rel KA dengan palang pintu di jalan raya Karangsono, sekitar 200 meter. Lalu, di utaranya juga ada perlintasan rel kereta api tanpa palang pintu berjarak sekitar 80 meter.
“Kalau di situ, pernah sekali MPU nyeberang tanpa penumpang tertabrak kereta api saat nyeberang. Kendaraannya terpental dan sempet terseret kereta. Sopirnya selamat,” tuturnya.
Meskipun lokasi TKP agak jauh dari rumah warga, tapi warga bisa melihat saat ada orang tak dikenal berjalan menyusuri rel. Biasanya, warga akan langsung memperingatkan.
“Itu tindakan warga sekitar, begitu ada orang berjalan menyusuri rel KA. Dengan tujuan, agar orangnya keluar dari rel dan terhindari dari tertabrak kereta api yang melintas,” ungkapnya. (zal/hn) Editor : Ronald Fernando