Soal adanya permintaan sejumlah uang itu, kuasa hukum Ningsih Tinampi, Yanuar Ade saat ditemui di Bangil tak menampiknya. Namun, hal itu disebutkan tak muncul tiba-tiba.
Menurut Yanuar, polemik soal rebutan hak asuh anak tersebut bermula saat Clara datang berobat ke Ningsih Tinampi. Ketika itu, Clara mengeluhkan sakit perut yang tak sembuh-sembuh selama 10 tahun dirasakannya. Perutnya buncit. Layaknya orang hamil.
“Melihat kondisi tersebut, sebenarnya Bu Ningsih sudah tahu kalau yang bersangkutan hamil. Tapi, pihak mereka tidak mengakui,” ujarnya.
Hingga 15 Mei 2019, Clara akhirnya melahirkan bayi laki-laki. Saat melahirkan itulah, justru Clara yang bilang kalau bayi tersebut adalah setan yang keluar dari perutnya.
“Setane wes metu, setane wes metu (setannya sudah keluar, Red). Dia bilang begitu saat itu,” imbuh Yanuar menirukan ucapan Clara saat melahirkan.
Saat itu pula, Clara dan keluarganya tidak mengakui anak tersebut. Bahkan, orang tua Clara bilang kalau anak tersebut jangan sampai dikenalkan ke keluarganya. Apalagi orang lain.
Empat hari setelah melahirkan, Clara akhirnya diperkenankan pulang. Ia sempat membawa pulang bayi beserta ari-arinya. Namun tak lama, dikembalikan lagi ke Ningsih Tinampi.
“Bahkan, Clara sempat menawar-nawarkan anaknya tersebut ke tetangga Bu Ningsih,” ceritanya.
Ningsih yang mengetahui hal itu, merasa tidak tega. Karena, ia tahu ekonomi masyarakat sekitar yang ditawari bayi. Ia khawatir, mereka tidak mampu merawat bayi itu dengan baik.
Karena itulah, akhirnya Ningsih mengambil anak tersebut. Anak itu kemudian diadopsi dan dirawat oleh besannya, Bagus dan Sukesi. Untuk melengkapi legalitas, pernyataan tertulis pun dibuat. Sejumlah saksi juga dihadirkan. Tidak hanya warga, ada pula Babinsa ataupun Bhabinkamtibmas.
Sejak itulah, bayi tersebut dirawat oleh Bagus dan Sukesi. Clara sendiri tidak pernah menjenguk bayinya setelah kejadian itu. Tapi, baru-baru inilah, persoalan itu dimunculkan. Ketika bayinya sudah menginjak 3,5 tahun.
“Selama ini ke mana? Jenguk saja tidak. Ujuk-ujuk mau mengambil anak tersebut,” sambung Yanuar.
Clara datang tidak sendirian untuk mengambil anaknya saat itu. Ada beberapa pihak yang dilibatkan. Baik dari PPA Polres hingga Dinsos Kabupaten Pasuruan.
Mediasi sempat dilakukan. Bahkan, pihak Clara yang lebih dulu menawarkan untuk mengganti biaya perawatan. Besarnya Rp 500 juta.
Bagi Ningsih Tinampi, uang tersebut bukanlah apa-apa. Apalagi, untuk bayi yang tidaklah boleh disamakan dengan barang. Karena itu, tawaran Clara membuat Ningsih Tinampi tersinggung. Emosi Ningsih pun tersulut. Hingga angka Rp 10 miliar keluar dari mulutnya.
“Penawaran itu menyinggung perasaan Bu Ningsih. Makanya, munculkan angka Rp 10 miliar sebagai bentuk kekesalan,” sampainya.
Kuasa Hukum Ningsih Tinampi lainnya, Aris Jayadi mengungkapkan, kasih sayang terhadap anak yang hak asuhnya tengah dalam sengketa itu, tidaklah bisa dibayar dengan uang. Bagi Ningsih, kebutuhan sehari-hari untuk anaknya, bukanlah perkara yang berat untuk diberikan.
https://radarbromo.jawapos.com/daerah/pandaan/05/12/2022/duduk-perkara-ibu-mau-asuh-anak-harus-tebus-rp-25-m-ke-ningsih-tinampi/
“Sebenarnya, Bu Ningsih tidak apa-apa, jika anak tersebut diasuh Clara. Hanya saja, cara yang dilakukan Clara menyinggung perasaan orang yang sudah mencurahkan kasih sayang kepada anak tersebut. Apalagi, anak itu sudah dianggap anak sendiri,” jelasnya.
Menurut pengacara yang berasal dari Kantor Jaya Shankar itu, Ningsih Tinampi sebenarnya siap untuk menyerahkan anak tersebut. Ia pun tidak masalah. Namun, kembali lagi, caranya haruslah dengan baik.
Tidak ujuk-ujuk mau diambil. Mengingat, anak tersebut adalah makhluk bernyawa. Bukanlah barang yang bisa dengan mudah dipindah. Apalagi, anak itu masih balita. Khawatir akan memengaruhi mentalnya.
“Bu Ningsih sebenarnya siap, jika anak tersebut mau diambil. Tapi, caranya haruslah humanis. Dan lagi, apa bisa Clara merawatnya? Dulu waktu lahir saja ditinggal. Kami khawatir, setelah diserahkan malah anak ini tak terurus dengan baik,” sambung dia.
Versi Clara
Diketahui, CLara Angeline, 24, gundah. Warga Sidoarjo ini ingin mengasuh anak kandungnya. Namun, dia harus menebus Rp 10 miliar. Belakangan, turun jadi Rp 2,5 Miliar ke Ningsih Tinampi, ahli pengobatan alternatif di Pandaan, Kabupaten Pasuruan.
“Awalnya minta Rp 10 miliar. Terus turun, menjadi Rp 2,5 miliar,” kata Clara Angeline saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo di Bangil.
Tentu saja Clara tak sanggup membayar. Dia lantas melaporkan kasusnya itu ke Polres Pasuruan. Sementara anaknya itu tetap di tangan Ningsih Tinampi, ahli pengobatan tradisional terkenal di Pandaan yang selama ini memang merawatnya.
Clara bercerita, rebutan anak dengan Ningsih Tinampi dimulai pada tahun 2019. Saat itu, Clara sering pusing. Rekan ayahnya lantas merekomendasikan agar Clara berobat ke Ningsih Tinampi.
Sebelum ke Ningsih Tinampi, ia sempat berobat ke Bali. Namun, belum ada hasilnya. Kepalanya masih pusing.
“Saya pusing tiga hari. Berobat ke Bali, belum ada hasil. Akhirnya, teman papa saya merekomendasikan ke Ningsih Tinampi. Saya sebenarnya tidak mempercayai hal-hal magic,” sambung dia.
Clara kemudian dibawa ke Ningsih Tinampi untuk menjalani pengobatan alternatif. Saat itu dia dalam kondisi hamil delapan bulan.
Kurang lebih sebulan dia menjalani perawatan di tempat khusus yang dimiliki Ningsih Tinampi di Pandaan. Lalu suatu hari, saat di kamar mandi, bayi yang dikandungnya akhirnya terlahir.
Clara kemudian diangkat pamannya ke kamar. Tanpa ada bidan, Clara melahirkan bayi laki-laki. “Saya lahiran di situ. Bidan datang, setelah 15 menit saya lahiran,” ungkapnya.
Begitu lahir, banyak yang menginginkan bayinya tersebut. Termasuk karyawan Ningsih Tinampi. Namun menurut Clara, ia menolak memberikannya. Ia berniat mengasuh anaknya sendiri. Meski sebenarnya, anak tersebut tidak memiliki ayah yang jelas.
“Saya hamil karena menjadi korban pemerkosaan,” tambahnya.
https://radarbromo.jawapos.com/daerah/pandaan/08/12/2022/ningsih-tinampi-bakal-lapor-balik-mantan-pasien-soal-penelantaran-anak/
Kelahiran bayinya itu dimungkinkan membuat orang tuanya tertekan. Saat keadaan tertekan itulah, Ningsih Tinampi disebutkan menakut-nakuti papanya. Ia menyebut, bayi tersebut lahir tanpa ayah. Bagaimana dengan reputasi keluarganya nanti.
Bahkan, Ningsih Tinampi juga menyebut anak yang dilahirkannya adalah anak setan. Hal itu disampaikan kepada papanya yang akhirnya membuat papanya makin tertekan.
“Saya kemudian disuruh menandatangani kertas yang isinya pun belum sempat saya baca,” bebernya.
Baru tiga hari bersama bayinya, bayi tersebut kemudian dibawa oleh Ningsih Tinampi. Bayi itu lantas dirawatkan kepada Bagus dan Sukesi yang masih besan dari Ningsih Tinampi di wilayah Prigen. (one/mie) Editor : Muhammad Fahmi