Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Karaoke dan Pramusaji Pakaian Minim Jadi “Pemikat” Warkop di Ruko Gempol 9

Jawanto Arifin • Selasa, 22 November 2022 | 17:20 WIB
DENYUT MALAM: Kondisi Ruko Gempol 9 yang didapati banyak warkop hanya malam hari. Mayoritas warkop itu menyediakan tempat karaoke dan pramusaji perempuan untuk menarik pelanggan datang. (Rizal Syatori/Radar Bromo)
DENYUT MALAM: Kondisi Ruko Gempol 9 yang didapati banyak warkop hanya malam hari. Mayoritas warkop itu menyediakan tempat karaoke dan pramusaji perempuan untuk menarik pelanggan datang. (Rizal Syatori/Radar Bromo)
GEMPOL, Radar Bromo - Saat berkunjung ke deretan warung kopi di kompleks ruko Gempol 9, telinga langsung disambut dengan suara musik dari sound system yang lumayan kencang.

Maklum, masing-masing warkop memang menyetel musik dengan sound system yang lumayan menggelegar. Bahkan, ada warkop yang menyediakan karaoke secara terbuka.

Sejumlah pengunjung tampak sedang berkaraoke, pegang mik dan bernyanyi menghadap televisi atau layar. “Ini hanya fasilitas untuk pengunjung. Kalau tidak ada karaoke terbuka dan sound system, sepi. Tidak ada yang datang ngopi di warkop,” ujar Desi, 40, salah seorang pemilik warkop yang menyewa di Ruko Gempol 9.

https://radarbromo.jawapos.com/hukrim/21/11/2022/diiming-imingi-gaji-rp-25-juta-jadi-purel-warkop-dijual-jadi-psk-di-tretes/

Sound system, menurutnya, tidak selalu disetel kencang. Jelang tengah malam semua warkop biasanya mengecilkan volume musik. “Bahkan, kalau pas sepi atau warkop tidak ada orang, musik dimatikan,” tuturnya.

Dengan tambahan hiburan itu, pemilik warkop memang menarik tarif lebih. Pengunjung yang ngopi sambil live karaoke dikenai tarif Rp 25 ribu untuk lima lagu.

“Saat menyanyi, ada yang ditemani pramusaji, ada yang tidak. Tergantung orang atau pengunjungnya,” bebernya.



Cara lain juga dilakukan para pemilik warkop untuk menarik pengunjung. Mereka menyediakan perempuan pramusaji untuk menemani pengunjung. Semuanya berpakaian minim; baju lengan pendek dan rok di atas lutut.

“Berpakain minim itu hanya untuk pemikat pembeli saja. Mereka bukan purel, tapi pramusaji. Kalau ada pengunjung datang, ditawari minum dan makan. Selebihnya menemani ngobrol atau menyanyi,” jelas Mawar, 23, salah seorang pemilik warkop.

Pramusaji yang dimiliki tiap warkop berbeda-beda. Ada yang tiga, empat, bahkan lebih. Tergantung ramai dan tidaknya warkop. Mereka berasal dari sekitaran Pasuruan dan beberapa daerah di Jatim. Bahkan, ada yang dari luar Jatim, seperti dari Jateng dan Jabar.

https://radarbromo.jawapos.com/daerah/pandaan/21/11/2022/warkop-di-gempol-yang-jadi-praktik-perdagangan-manusia-hanya-buka-malam/

Para pramusaji ini digaji harian oleh pemilik warkop. Namun, aktivitas open booking dilarang dilakukan di sana. Pramusaji hanya menemani. Tidak ada yang lain.

“Kami pemilik warkop menggaji pramusaji dengan gaji harian. Nilainya tidak banyak, tapi cukuplah. Selebihnya dapat tip dari pengunjung. Selama di warkop, dilarang open booking,” ungkapnya.

Karena itu, meskipun pramusaji berpakaian minim, tidak ada kegiatan open booking. Sebab, memang ada perjanjian dengan pengelola Ruko Gempol 9 dengan pemilik warkop. Yaitu, dilarang melakukan kegiatan prostitusi di warkop.



Sejumlah pramusaji menegaskan, mereka memang hanya dibayar untuk menemani pengunjung. Seperti yang disampaikan Laras (bukan nama sebenarnya), 26, asal Lumajang.

Janda beranak dua itu menjadi pramusaji di warkop baru tiga bulan terakhir. Pekerjaan itu dipilihnya karena dia harus membiayai dua anaknya.

“Ini saya lakukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Saya hanya melayani pengunjung di sini. Kadang juga dapat rezeki tambahan atau tip,” ujarnya yang malam itu berpakaian minim.

https://radarbromo.jawapos.com/hukrim/22/11/2022/korban-penyekapan-dijadikan-psk-di-tretes-dianiaya-saat-mau-kabur/

Handoko, kepala sekuriti Ruko Gempol 9 menuturkan, pemilik warkop yang menyewa ruko berasal dari sejumlah daerah. Mulai Gempol, Pandaan, Sukorejo, Rembang. Juga ada yang dari Porong, Kabupaten Sidoarjo.

Selama beroperasi, pihaknya selalu memantau dan mengawasi aktivitas warkop. Terutama jam tutup. Setelah pukul 24.00, warkop harus sudah kosong dari pengunjung.

“Kecuali pemilik dan pegawainya diberi tambahan waktu 30 menit hingga pukul 00.30,” ujarnya.



Diketahui, Ruko Gempol 9 di Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan mendadak jadi sorotan. Tepatnya setelah tim gabungan Jatanras dan Renakta Polda Jatim menggerebek sebuah warung kopi (warkop) di ruko ini karena diduga dijadikan tempat perdagangan manusia. (rizal syatori/hn) Editor : Jawanto Arifin
#polda jatim #ruko gempol 9 #ruko gempol #human trafficking #polres pasuruan #perdagangan orang