Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Nama Museum Kab Pasuruan Belum Berubah

Jawanto Arifin • Rabu, 19 Oktober 2022 | 22:33 WIB
DESTINASI WISATA: Gedung Museum Kabupaten Pasuruan menjadi salah satu jujukan wisatawan yang berkunjung ke kawasan Masjid Cheng Hoo di Pandaan. (Foto: Rizal F Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)
DESTINASI WISATA: Gedung Museum Kabupaten Pasuruan menjadi salah satu jujukan wisatawan yang berkunjung ke kawasan Masjid Cheng Hoo di Pandaan. (Foto: Rizal F Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)
PANDAAN, Radar Bromo - Museum Kabupaten Pasuruan masih menjadi daya tarik bagi wisatawan. Di dalam gedung penyimpan benda-benda bersejarah dan purbakala itu, dipajang 149 koleksi. Ada arca, tembikar, yoni, terakota, keris, dan sebagainya.

Pada September lalu, muncul wacana untuk mengubah nama museum tersebut. Dari Museum Kabupaten Pasuruan menjadi Museum Cunggrang. Namun, wacana tersebut belum diputuskan. Gedung bertingkat dan berornamen Tionghoa itu tetap bernama Museum Pasuruan.

Photo
Photo
TERTATA: Sudut di dalam Museum Kabupaten Pasuruan. (Foto: Rizal F Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)

Photo
Photo
PRASASTI: Salah satu koleksi di museum Kabupaten Pasuruan. (Foto: Rizal F Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)

Cunggrang merupakan nama salah satu prasasti peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang terletak di Dusun Sukci, Desa Bulusari, Kecamatan Gempol. Prasasti Cunggrang dibuat oleh Mpu Sindok, Pendiri Wangsa Isyana Kerajaan Medang (Mataram Kuno) pada 18 September tahun 851 Saka atau 929 Masehi.



Prasasti Cunggrang dibangun sebagai ucapan terima kasih kepada penduduk Dusun Cunggrang yang telah bergotong royong merawat pertapaan, prasada, dan pancuran air di Gunung Penanggungan.

”Rencananya memang mau diganti dan berubah menjadi Museum Cunggrang. Namun, itu belum final,” jelas pengelola Museum Kabupaten Pasuruan Karno.

Selain soal nama yang tidak berubah, lanjut Karno, sampai saat ini jumlah koleksi museum tidak berubah. Koleksi Museum Pasuruan berasal dari pinjam pakai milik Candi Jawi atau Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur serta hibah dari para kolektor.

”Anggaran kami masih terbatas. Jadi, belum bisa menambah koleksi. Tetap memaksimalkan yang ada dulu,” tuturnya. Ditanya tentang jumlah pengunjung selama 2022, Karno menyebut sekitar 1.500 orang. (zal/far) Editor : Jawanto Arifin
#museum kabupaten pasuruan