Pada September lalu, muncul wacana untuk mengubah nama museum tersebut. Dari Museum Kabupaten Pasuruan menjadi Museum Cunggrang. Namun, wacana tersebut belum diputuskan. Gedung bertingkat dan berornamen Tionghoa itu tetap bernama Museum Pasuruan.
Cunggrang merupakan nama salah satu prasasti peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang terletak di Dusun Sukci, Desa Bulusari, Kecamatan Gempol. Prasasti Cunggrang dibuat oleh Mpu Sindok, Pendiri Wangsa Isyana Kerajaan Medang (Mataram Kuno) pada 18 September tahun 851 Saka atau 929 Masehi.
Prasasti Cunggrang dibangun sebagai ucapan terima kasih kepada penduduk Dusun Cunggrang yang telah bergotong royong merawat pertapaan, prasada, dan pancuran air di Gunung Penanggungan.
”Rencananya memang mau diganti dan berubah menjadi Museum Cunggrang. Namun, itu belum final,” jelas pengelola Museum Kabupaten Pasuruan Karno.
Selain soal nama yang tidak berubah, lanjut Karno, sampai saat ini jumlah koleksi museum tidak berubah. Koleksi Museum Pasuruan berasal dari pinjam pakai milik Candi Jawi atau Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur serta hibah dari para kolektor.
”Anggaran kami masih terbatas. Jadi, belum bisa menambah koleksi. Tetap memaksimalkan yang ada dulu,” tuturnya. Ditanya tentang jumlah pengunjung selama 2022, Karno menyebut sekitar 1.500 orang. (zal/far) Editor : Jawanto Arifin